Perbedaan Laptop Merah Putih dan Laptop Pelajar Rp10 Juta

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Jumat, 30/07/2021 21:26 WIB
Perbedaan proyek laptop merah putih dan laptop pelajar Kemendikbudristek. Ilustrasi laptop merah putih. (Foto: iStockphoto/Natalie_magic)
Jakarta, CNN Indonesia --

Karo Perencanaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), M Samsuri mengatakan masih banyak kesimpangsiuran di tengah masyarakat soal penyebutan laptop merah putih dan laptop pelajar Kemendikbudristek yang belakangan dijual Rp10 juta per unit.

Menurut Samsuri laptop merah putih dan laptop pelajar Kemendikbudristek merupakan dua hal berbeda.

Proyek laptop merah putih menggaet tiga universitas dalam pengembangannya, yaitu terdiri dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).


Di 2021 TKDN pada laptop merah putih memiliki persentase 25 hingga 30 persen, tahun depan persentasenya lebih dari 40 persen dan pada 2023 memiliki persentase 40 hingga 65 persen. Sejumlah produsen laptop lokal dilibatkan untuk proyek ini.

"Laptop merah putih ditujukan untuk membangkitkan industri produsen laptop lokal yaitu program pengembangan dari konsorsium 3 universitas. Universitas melakukan riset dan periset ini bekerja sama industri dalam negeri bagaimana bisa memproduksi laptop lebih baik di Indonesia yang menyasar TKDN tinggi," kata Samsuri.

Sementara dijelaskan Samsuri laptop pelajar besutan Kemendikbudristek untuk sementara waktu tidak untuk penggunaan proses belajar mengajar di universitas di Indonesia.

"Dan laptop pelajar untuk penggunaan sekolah (SD, SMP dan SMA), yang diharapkan 2024 tuntas. Untuk laptop merah putih masih sekadar slogan. Ini [laptop merah putih] masih digodok, tapi kemungkinan prototipenya sudah ada," ucap Samsuri.

Untuk informasi, untuk produk Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mendukung produk dalam negeri (PDN) menggunakan dana untuk 2021 sebesar Rp3,7 triliun yang terdiri dari dua alokasi.

Pertama, dari anggaran Kemendikbudristek (APBN Pusat) senilai Rp1,3 triliun, dan kedua senilai Rp2,4 triliun dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik tahun 2021.

Pembelanjaan TIK melalui APBN tahun 2021 senilai Rp1,3 triliun digunakan untuk memenuhi kebutuhan 12.674 sekolah mulai dari jenjang SD, SMP, SMA, dan SLB, yaitu untuk pembelian 189.840 laptop, 12.674 access point, 12.674 konektor, 12.674 proyektor, dan 45 speaker.

Untuk harga per unit laptop merujuk pada pilihan yang ada pada e-katalog LKPP.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menjelaskan mengalokasikan dana sebesar Rp2,4 triliun untuk pengadaan 240 ribu laptop untuk sekolah. Publik pun menghitung harga per unit laptop harga satu laptop sebesar Rp10 juta.

Padahal dengan spesifikasi minimal yang tertera pada juknis, harga satu unit laptop tak lebih dari Rp5 juta.

Samsuri pun tidak mengelak bila harga satu unit laptop pelajar Kemendikbudristek dijual di atas Rp5 juta.

"Itu harga minimal, dan bisa lebih dari itu," tutupnya.

(mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK