Perbedaan RT-PCR dan iiPCR yang Hasilkan CT Value Ekstrem

CNN Indonesia | Kamis, 16/09/2021 22:16 WIB
Pakar biologi molekuler, Ahmad Rusdan Utomo, membeberkan perbedaan tes RT-PCR dan iiPCR terkait CT Value ekstrem. Pakar biologi molekuler, Ahmad Rusdan Utomo, membeberkan perbedaan tes RT-PCR dan iiPCR terkait CT Value ekstrem. (CNN Indonesia / Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hasil pemeriksaan Cycle Threshold (CT) value dari tes polymerase chain reaction (PCR) seringkali dijadikan tolok ukur dari sebaran virus corona yang ada dalam tubuh pasien.

Hal tersebut seperti terjadi pada salah seorang pasien Covid-19 di Surabaya menunjukkan nilai sangat rendah, berada di angka 1,8.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan angka tersebut dihasilkan karena pasien dites menggunakan metode iiPCR.


Tes PCR memang terdiri dari beberapa jenis, di antaranya adalah RT-PCR (reverse transcription PCR) dan iiPCR (insulated isothermal PCR).

RT-PCR dan iiPCR pada dasarnya memiliki prinsip pemeriksaan yang sama yakni dengan cara memperbanyak gen target pada waktu tertentu.

Namun Teknik spesifik yang digunakan pada kedua pemeriksaan ini berbeda. Pada RT-PCR temperatur yang digunakan pada proses amplifikasi gen target dengan siklus yang diulang-ulang.

Ahli Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi Jakarta, Ahmad Rusdan Utomo, menjelaskan proses pemanasan suhu dari tes RT-PCR dilakukan dengan tiga tahap pemanasan.

"PCR biasa sistem pemanasannya tiga tahap yang diulang siklusnya, umumnya suhu tinggi 95 celcius, lalu diturunkan ke 65 celcius, lalu terakhir 72 celcius masing-masing 30 detik. Dan dilakukan berulang siklusnya," ujar Ahmad kepada CNNIndonesia.com, Selasa (14/9).

Ahmad menjelaskan proses itu dilakukan sehingga ditemukan jumlah siklus yang diperlukan untuk mendeteksi produk penggandaan materi genetik.

Sementara temperatur pada tes iiPCR cenderung konstan (isothermal). Tes iiPCR menggunakan tabung kapiler khusus yang ada di insulasi dengan tembaga sehingga pemanasan suhu berada di dasar tabung.

"Berdasarkan prinsip konveksi, suhu di tabung bagian atas akan lebih rendah. Jadi proses penggandaan materi genetik tidak perlu mengganti suhu berkali2, cukup pemanasan satu kali di tabung bagian bawah sehingga disebut isothermal," papar Ahmad.

Sebelumnya, pasien di Surabaya yang memiliki CT rendah sebesar 1,8 diketahui merupakan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang baru pulang ke Jawa Timur baru-baru ini.

Budi mengemukakan bahwa temuan itu terjadi lantaran metode tes PCR yang digunakan berbeda dari biasanya.

Adapun temuan itu sebelumnya dinilai mengkhawatirkan oleh Tim medis di rumah sakit darurat Covid-19 Surabaya, atau Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI), lantaran menjadi indikasi ditemukannya kasus mutasi virus SARS-CoV-2 baru.

(mrh/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK