Beberapa waktu lalu publik diramaikan oleh isu PeduliLindungi buatan Singapura. Namun, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dengan tegas membantah isu tersebut.
Kemenkominfo menyatakan PeduliLindungi murni buatan dalam negeri dan terinspirasi dari TraceTogether buatan Singapura.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain TraceTogether dan PeduliLindungi, beberapa negara juga memiliki aplikasi sebagai upaya untuk meredam penyebaran Covid-19, berikut lima aplikasi Tracing Covid-19 di negara lain yang dirangkum oleh CNNIndonesia.com:
Aplikasi TraceTogether dikembangkan oleh Singapura untuk mengidentifikasi orang-orang yang mungkin terpapar Covid-19. TraceTogether menggunakan sinyal bluetooth antar pengguna untuk melakukan pelacakan.
Ketika pengguna mendaftar pada aplikasi TraceTogether, pengguna akan mendapatkan identitas pengguna acak. Ketika pengguna berdekatan dengan pengguna lain, sistem pada aplikasi akan menyimpan informasi pengguna hingga 25 hari.
Dilansir dari The Strait Times, data interaksi pengguna akan tersimpan pada ponsel, dan akan diunggah ke peladen (server) saat pengguna teridentifikasi Covid-19.
Penggunaan identitas pengguna acak membuat TraceTogether tidak mengambil sedikitpun data pribadi termasuk nama.
Aarogya Setu yang dalam bahasa Indonesia bermakna 'jembatan menuju kesehatan' adalah aplikasi pelacakan Covid-19 milik India. Aplikasi ini diluncurkan pada awal April 2020 dan diunduh lebih dari lima juta orang hanya dalam waktu tiga hari.
Aplikasi Aarogya Setu bekerja dengan menggunakan sinyal bluetooth dan data lokasi (GPS), Aarogya Setu memberi informasi pada pengguna saat ia memiliki kemungkinan kontak dengan pengidap Covid-19 melalui pemindaian database dari kasus Covid-19 yang diketahui.
Aplikasi ini menyimpan nama, nomor ponsel, jenis kelamin, riwayat perjalanan, dan apakah Anda perokok atau bukan. Dan semua data tersebut juga dapat diakses oleh pemerintah.
3. CovidSafe
CovidSafe merupakan aplikasi penanganan Covid-19 yang dikembangkan oleh pemerintah Australia. Aplikasi yang dirilis pada 26 April 2020 ini menggunakan sinyal bluetooth sebagai media tracing, menggunakan metode yang mereka sebut dengan 'salaman digital'.
Saat mendaftar ke aplikasi CovidSafe, pengguna perlu memasukkan nama (bisa nama samaran), rentang umur, nomor ponsel, dan kode pos.
Pada diskusi publik bertajuk Keamanan Data Surveilans Digital untuk Kesehatan Masyarakat, Rabu (15/9), Shevierra Danmadiyah, peneliti dari Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) mengatakan CovidSafe sebagai contoh yang baik karena tidak menggunakan informasi pribadi yang terlalu spesifik untuk penggunanya.
Close Contact Detector adalah aplikasi tracing Covid-19 milik China. Aplikasi ini memberikan peringatan pada pengguna jika pengguna berada di sekitar pengidap Covid-19 atau orang yang terindikasi Covid-19.
Pengguna yang melakukan kontak dengan orang yang terkonfirmasi mengidap Covid-19 akan dimasukkan ke dalam daftar 'close contact'.
China dikenal melakukan pengawasan yang cukup ketat pada warganya, sehingga bentuk pengawasan pada aplikasi Close Contact Detector tidak menjadi kontroversi seperti di beberapa negara lain.
Immuni merupakan aplikasi penganan pandemi Covid-19 milik Italia yang dirilis pada awal Juni 2020.
Aplikasi ini menggunakan sinyal bluetooth untuk mendata interaksi antar penggunanya. Jika salah satu pengguna teridentifikasi mengidap Covid-19, Immuni akan memberikan peringatan pada pengguna yang beberapa hari terakhir terdata melakukan interaksi dengannya.
Seperti dilansir Reuters, Immuni pun memberikan imbauan kepada pengguna tersebut untuk segera melakukan isolasi mandiri dan tes Covid-19, untuk membantu otoritas kesehatan bereaksi cepat dan membatasi penyebaran.
Beberapa waktu lalu publik diramaikan oleh isu PeduliLindungi buatan Singapura. Namun, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dengan tegas membantah isu tersebut.
Kemenkominfo menyatakan PeduliLindungi murni buatan dalam negeri dan terinspirasi dari TraceTogether buatan Singapura.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain TraceTogether dan PeduliLindungi, beberapa negara juga memiliki aplikasi sebagai upaya untuk meredam penyebaran Covid-19, berikut lima aplikasi Tracing Covid-19 di negara lain yang dirangkum oleh CNNIndonesia.com:
Aplikasi TraceTogether dikembangkan oleh Singapura untuk mengidentifikasi orang-orang yang mungkin terpapar Covid-19. TraceTogether menggunakan sinyal bluetooth antar pengguna untuk melakukan pelacakan.
Ketika pengguna mendaftar pada aplikasi TraceTogether, pengguna akan mendapatkan identitas pengguna acak. Ketika pengguna berdekatan dengan pengguna lain, sistem pada aplikasi akan menyimpan informasi pengguna hingga 25 hari.
Dilansir dari The Strait Times, data interaksi pengguna akan tersimpan pada ponsel, dan akan diunggah ke peladen (server) saat pengguna teridentifikasi Covid-19.
Penggunaan identitas pengguna acak membuat TraceTogether tidak mengambil sedikitpun data pribadi termasuk nama.
Aarogya Setu yang dalam bahasa Indonesia bermakna 'jembatan menuju kesehatan' adalah aplikasi pelacakan Covid-19 milik India. Aplikasi ini diluncurkan pada awal April 2020 dan diunduh lebih dari lima juta orang hanya dalam waktu tiga hari.
Aplikasi Aarogya Setu bekerja dengan menggunakan sinyal bluetooth dan data lokasi (GPS), Aarogya Setu memberi informasi pada pengguna saat ia memiliki kemungkinan kontak dengan pengidap Covid-19 melalui pemindaian database dari kasus Covid-19 yang diketahui.
Aplikasi ini menyimpan nama, nomor ponsel, jenis kelamin, riwayat perjalanan, dan apakah Anda perokok atau bukan. Dan semua data tersebut juga dapat diakses oleh pemerintah.
5 Aplikasi Tracing Covid-19 di Negara Lain
Aplikasi TraceTogether. (Screenshot via Aplikasi TraceTogether)
3. CovidSafe
CovidSafe merupakan aplikasi penanganan Covid-19 yang dikembangkan oleh pemerintah Australia. Aplikasi yang dirilis pada 26 April 2020 ini menggunakan sinyal bluetooth sebagai media tracing, menggunakan metode yang mereka sebut dengan 'salaman digital'.
Saat mendaftar ke aplikasi CovidSafe, pengguna perlu memasukkan nama (bisa nama samaran), rentang umur, nomor ponsel, dan kode pos.
Pada diskusi publik bertajuk Keamanan Data Surveilans Digital untuk Kesehatan Masyarakat, Rabu (15/9), Shevierra Danmadiyah, peneliti dari Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) mengatakan CovidSafe sebagai contoh yang baik karena tidak menggunakan informasi pribadi yang terlalu spesifik untuk penggunanya.
Close Contact Detector adalah aplikasi tracing Covid-19 milik China. Aplikasi ini memberikan peringatan pada pengguna jika pengguna berada di sekitar pengidap Covid-19 atau orang yang terindikasi Covid-19.
Pengguna yang melakukan kontak dengan orang yang terkonfirmasi mengidap Covid-19 akan dimasukkan ke dalam daftar 'close contact'.
China dikenal melakukan pengawasan yang cukup ketat pada warganya, sehingga bentuk pengawasan pada aplikasi Close Contact Detector tidak menjadi kontroversi seperti di beberapa negara lain.
Immuni merupakan aplikasi penganan pandemi Covid-19 milik Italia yang dirilis pada awal Juni 2020.
Aplikasi ini menggunakan sinyal bluetooth untuk mendata interaksi antar penggunanya. Jika salah satu pengguna teridentifikasi mengidap Covid-19, Immuni akan memberikan peringatan pada pengguna yang beberapa hari terakhir terdata melakukan interaksi dengannya.
Seperti dilansir Reuters, Immuni pun memberikan imbauan kepada pengguna tersebut untuk segera melakukan isolasi mandiri dan tes Covid-19, untuk membantu otoritas kesehatan bereaksi cepat dan membatasi penyebaran.