LAPAN Prediksi Puncak Siklus Badai Matahari Terjadi di 2022

CNN Indonesia
Kamis, 07 Oct 2021 07:15 WIB
LAPAN memprediksi siklus Matahari akan mendekati puncak pada 2022 sehingga membuat aktivitas bintang itu berpotensi meningkat dan memicu badai Matahari. LAPAN memprediksi siklus Matahari akan mendekati puncak pada 2022 sehingga membuat aktivitas bintang itu berpotensi meningkat dan memicu badai Matahari. (NASA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengungkapkan siklus Matahari akan mendekati puncak pada 2022. Kondisi itu disebut akan membuat aktivitas bintang itu berpotensi meningkat dan memicu badai Matahari.

"Pada tahun 2022, diperkirakan siklus Matahari akan mendekati puncak siklus, sehingga aktivitas Matahari kemungkinan akan semakin meningkat. Pada keadaan seperti ini, besar kemungkinan akan terjadi peningkatan frekuensi kemunculan flare dan lontaran massa korona, serta peningkatan kecepatan angin surya di Matahari akibat banyaknya aktivitas transien di Matahari," demikian paparan LAPAN dalam Webinar Cuaca Antariksa: Riset, Layanan dan Manfaatnya yang berlangsung secara daring, seperti dikutip dari situs resmi LAPAN.

Peningkatan aktivitas matahari itu akan memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap cuaca antariksa, terutama perubahan kerapatan plasma di lingkungan antariksa dekat bumi. Kondisi cuaca antariksa itu juga akan memengaruhi satelit-satelit yang mengorbit bumi, khususnya satelit yang berada di orbit rendah.


Selain itu, aktivitas Matahari ekstrem itu dapat melepaskan partikel berenergi tinggi sehingga menyebabkan single event effect (SEE) yang dapat mengganggu performa komponen elektronika satelit.

LAPAN menyatakan akan terus berupaya untuk memprediksi cuaca antariksa, termasuk prediksi kejadian badai Matahari, badai geomagnet, dan gangguan ionosfer yang dapat mengganggu penjalaran gelombang radio. Prakiraan kondisi di Matahari yang diberikan oleh LAPAN berupa prakiraan kemunculan daerah aktif sebelum tampak dari bumi, flare, angin surya, proton dan elektron berenergi tinggi, serta kondisi di ionosfer dan geomagnet secara umum.

"Prakiraan kondisi Matahari dan cuaca antariksa in dikembangkan berdasarkan hasil penelitian secara bertahun-tahun dan sebagian beroperasi secara otomatis dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (machine learning). Melalui layanan Space Weather Information and Forecast Services (SWIFtS), para peneliti LAPAN melakukan analisis data-data cuaca antariksa serta menyampaikan hasil laporan kondisi cuaca antariksa secara harian," demikian tulis LAPAN.

Berlanjut ke halaman berikutnya >>>

Siklus Terlemah Matahari

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER