Difa Ayatullah, Puja Langit Berujung Mimpi Pembalut Ramah Bumi
CNN Indonesia
Jumat, 04 Nov 2022 19:29 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Mahasiswi ITB Difa Ayatullah menciptakan pembalut yang ramah lingkungan. (Foto: Dok. Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia --
Difa Ayatullah (20) mulanya adalah penggemar astronomi. Masalah sampah memaksanya membumi. Tak cuma kata, ia berkarya lewat pembalut organik ramah alam.
Mahasiswi Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2019 itu mengaku hidup selayaknya anak daerah pada umumnya meski ada keragaman dalam hal pergaulan. Hal itu tak lepas dari pendidikannya di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendikia, Gorontalo.
"SMA itu aku sekolah di Gorontalo. Alhamdulilah-nya dengan cukup diversity, bukan cuman anak sulawesi aja jadi ada banyak teman-teman dari Jawa, jadi lebih membuka mata aku aja mulai sadar motivasi untuk melakukan lebih, bukan hanya sekolah dan bekerja saja," ujar Difa, dalam wawancara dengan CNNIndonesia.com, Sabtu (15/10).
Gadis kelahiran Manado, Sulawesi Utara, itu pada mulanya adalah pecinta dunia astronomi hingga sempat mewakili Gorontalo di olimpiade astronomi. Selepas dari MAN, ia pun tertarik masuk ke program studi fisika. Tujuannya, mendalami ilmu fisika teori untuk menunjang keingintahuan di bidang astronomi.
Namun, Difa mulai teraliihkan saat melihat masalah sampah di sekitarnya. Hal itu mengubah haluannya untuk lebih memperdalam peminatan lain untuk melindungi alam.
Ketika masuk ke kampus Ganesha tiga tahun lalu. Ia tertarik mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pecinta alam. Dari situlah ia bertemu dengan kawan yang memiliki visi yang sama untuk membuat penemuan.
Hingga pada satu titik tercetuslah gagasan soal pembalut organik.
Awalnya adalah pesan WhatsApp yang diterima Difa pada tahun lalu dari teman jurusan kewirausahan ITB soal gagasan pembalut itu.
Mahasiswi semester VII di Program Studi Fisika ITB itu mengungkap lebih dari 50 persen populasi dunia mengalami menstruasi. Namun, masalah kebersihan kewanitaan itu belum berkorelasi dengan pelestarian lingkungan.
"Terlebih, kita menemukan infografis yang bilang satu pembalut itu sama dengan empat kantung plastik," ujarnya.
"Gimana caranya bikin yang bisa terurai. Konsepnya sama dengan pembalut yang higienis, dan produk akhirnya tapi enggak nyampah," sambungnya.
Dia menilai pembalut menghasilkan masalah yang sama tak ubahnya seperti sampah biasa. Kendati sampah bisa diolah "kalau terbuangnya di tempat pembuangan yang tidak dipilah, sama saja," tuturnya.
Dikutip dari Reuters, pembalut wanita sekali pakai menyumbang sampah yang terbilang tinggi. Di Amerika Utara, hampir 20 miliar pembalut wanita, tampon, dan aplikator dibuang ke tempat pembuangan sampah di setiap tahun.
Sementara, sampah pembalut di Indonesia sendiri mencapai 26 ton per hari.
Angka yang terbilang tinggi itu belum lagi ditambah dengan meningkatnya populasi penduduk di Indonesia. Lewat sensus Sensus Penduduk pada 2020 mencatat jumlah penduduk sebesar 270,20 juta jiwa. Itu bertambah 32,56 juta jiwa dibandingkan hasil sensus 2010.
Difa bersama tiga orang teman dari berbagai jurusan di ITB yang anti-sampah plastik lantas merumuskan dan mulai meneliti soal formula pembalut yang tidak merusak alam.
Gagasan itu diikutsertakan dalam beberapa lomba, salah satunya Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM).
"Akhirnya kita ya udah tiba-tiba dapet funding pertama dari Paragon Innovation Schollarship. Akhirnya punya dana untuk melakukan proyek dan bisa mulai gawe, dan itu menjadi pembuka jalan banget," tuturnya.
Beberapa bulan lalu, Difa mendapat unggahan Falling Walls Lab dari kampusnya. Tertulis "win your global final", dan akhirnya diundang ke Berlin, Jerman, untuk mempresentasikan hasil kerja timnya.
"Ternyata bisa ke Berlin ini. Ini kesempatan bagus banget ini, banyak kesempatan buat diskusi dengan pihak ahli dan dipertemukan investor," ujarnya.
Teknik pembuatan pembalut organik di halaman berikutnya...
Dalam perjalanan membuat pembalut organik, ia bekerja dengan tim yang berasal dari jurusan kewirausahaan dan kimia. Masing-masing memiliki tugas sesuai proporsinya untuk dikolaborasikan dalam bentuk produk riset.
Difa menjelaskan secara ringkas bagaimana akhirnya produk temuan itu membawa dia ke Negri Panzer pertengahan November.
Pemudi kelahiran 12 Juli 2002 itu mengatakan pembalut pada umumnya memiliki beberapa lapisan. Dia dengan tim menyederhanakannya menjadi dua lapisan. Lapisan itu terdiri dari penyerap dan anti-air. Ia kemudian mengganti lapisan penyerap itu menggunakan lapisan dengan bahan rahasia.
"Sebenernya berasal dari tanaman yang cukup banyak ditanami di Indonesia, cuman kita belum bisa memberi tahu jenis tanamanya," ujarnya, yang hobi melukis sejak kecil itu.
Tanaman itu diekstraksi untuk menggantikan penggunaan bahan yang berbahaya dalam pembalut.
Untuk lapisan anti-air yang umunya menggunakan plastik, Difa menggantinya dengan serat organik atau biofilm. Lapisan ini disebut Difa seperti plastik berbahan singkong yang bisa terurai di alam.
Saat ini, Difa mengaku pembalut tersebut masih dalam tahap pengembangan. Untuk urusan produksi, Difa masih menimbang-nimbang durasinya untuk satu pembalut.
Namun demikian, ia menyebut ada potensi besar pasar pembalut organik di Indonesia, terlebih karena sedikit orang yang tahu soal produk pembalut yang bisa terurai dan tumbuhan yang jadi resep rahasianya masih melimpah.
"Jadi setidaknya enggak kesulitan untuk masalah bahan bakunya," kata dia.
"Bahkan di Indonesia itu di tingkat nomor tiga dunia yang produksi tanaman ini, bisa ditemui di belakang pekarangan rumah," sambungnya.
Lewat kompetisi di Berlin, Jerman itu ia berharap bisa menjadi sorotan dunia sehingga selain mendapatkan uang tunai sebagai hadiah, mendapatkan kolaborasi penelitian hingga pendanaan agar segera bisa dikomersialkan.
"Pasti bakal dipublish kemana-manna, bakal banyak dapet perhatian dari banyak pihak, terutama banyak pusat penelirian Jerman. Jadi gak melulu ngarepin uang," katanya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Difa Ayatullah (20) mulanya adalah penggemar astronomi. Masalah sampah memaksanya membumi. Tak cuma kata, ia berkarya lewat pembalut organik ramah alam.
Mahasiswi Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2019 itu mengaku hidup selayaknya anak daerah pada umumnya meski ada keragaman dalam hal pergaulan. Hal itu tak lepas dari pendidikannya di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendikia, Gorontalo.
"SMA itu aku sekolah di Gorontalo. Alhamdulilah-nya dengan cukup diversity, bukan cuman anak sulawesi aja jadi ada banyak teman-teman dari Jawa, jadi lebih membuka mata aku aja mulai sadar motivasi untuk melakukan lebih, bukan hanya sekolah dan bekerja saja," ujar Difa, dalam wawancara dengan CNNIndonesia.com, Sabtu (15/10).
Gadis kelahiran Manado, Sulawesi Utara, itu pada mulanya adalah pecinta dunia astronomi hingga sempat mewakili Gorontalo di olimpiade astronomi. Selepas dari MAN, ia pun tertarik masuk ke program studi fisika. Tujuannya, mendalami ilmu fisika teori untuk menunjang keingintahuan di bidang astronomi.
Namun, Difa mulai teraliihkan saat melihat masalah sampah di sekitarnya. Hal itu mengubah haluannya untuk lebih memperdalam peminatan lain untuk melindungi alam.
Ketika masuk ke kampus Ganesha tiga tahun lalu. Ia tertarik mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pecinta alam. Dari situlah ia bertemu dengan kawan yang memiliki visi yang sama untuk membuat penemuan.
Hingga pada satu titik tercetuslah gagasan soal pembalut organik.
Awalnya adalah pesan WhatsApp yang diterima Difa pada tahun lalu dari teman jurusan kewirausahan ITB soal gagasan pembalut itu.
Mahasiswi semester VII di Program Studi Fisika ITB itu mengungkap lebih dari 50 persen populasi dunia mengalami menstruasi. Namun, masalah kebersihan kewanitaan itu belum berkorelasi dengan pelestarian lingkungan.
"Terlebih, kita menemukan infografis yang bilang satu pembalut itu sama dengan empat kantung plastik," ujarnya.
"Gimana caranya bikin yang bisa terurai. Konsepnya sama dengan pembalut yang higienis, dan produk akhirnya tapi enggak nyampah," sambungnya.
Dia menilai pembalut menghasilkan masalah yang sama tak ubahnya seperti sampah biasa. Kendati sampah bisa diolah "kalau terbuangnya di tempat pembuangan yang tidak dipilah, sama saja," tuturnya.
Dikutip dari Reuters, pembalut wanita sekali pakai menyumbang sampah yang terbilang tinggi. Di Amerika Utara, hampir 20 miliar pembalut wanita, tampon, dan aplikator dibuang ke tempat pembuangan sampah di setiap tahun.
Sementara, sampah pembalut di Indonesia sendiri mencapai 26 ton per hari.
Angka yang terbilang tinggi itu belum lagi ditambah dengan meningkatnya populasi penduduk di Indonesia. Lewat sensus Sensus Penduduk pada 2020 mencatat jumlah penduduk sebesar 270,20 juta jiwa. Itu bertambah 32,56 juta jiwa dibandingkan hasil sensus 2010.
Difa bersama tiga orang teman dari berbagai jurusan di ITB yang anti-sampah plastik lantas merumuskan dan mulai meneliti soal formula pembalut yang tidak merusak alam.
Gagasan itu diikutsertakan dalam beberapa lomba, salah satunya Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM).
"Akhirnya kita ya udah tiba-tiba dapet funding pertama dari Paragon Innovation Schollarship. Akhirnya punya dana untuk melakukan proyek dan bisa mulai gawe, dan itu menjadi pembuka jalan banget," tuturnya.
Beberapa bulan lalu, Difa mendapat unggahan Falling Walls Lab dari kampusnya. Tertulis "win your global final", dan akhirnya diundang ke Berlin, Jerman, untuk mempresentasikan hasil kerja timnya.
"Ternyata bisa ke Berlin ini. Ini kesempatan bagus banget ini, banyak kesempatan buat diskusi dengan pihak ahli dan dipertemukan investor," ujarnya.
Teknik pembuatan pembalut organik di halaman berikutnya...
Resep Rahasia
Penelitian soal pembalut ramah lingkungan digawangi oleh Difa Ayatullah dkk. (Foto: Dok. Pribadi)
Dalam perjalanan membuat pembalut organik, ia bekerja dengan tim yang berasal dari jurusan kewirausahaan dan kimia. Masing-masing memiliki tugas sesuai proporsinya untuk dikolaborasikan dalam bentuk produk riset.
Difa menjelaskan secara ringkas bagaimana akhirnya produk temuan itu membawa dia ke Negri Panzer pertengahan November.
Pemudi kelahiran 12 Juli 2002 itu mengatakan pembalut pada umumnya memiliki beberapa lapisan. Dia dengan tim menyederhanakannya menjadi dua lapisan. Lapisan itu terdiri dari penyerap dan anti-air. Ia kemudian mengganti lapisan penyerap itu menggunakan lapisan dengan bahan rahasia.
"Sebenernya berasal dari tanaman yang cukup banyak ditanami di Indonesia, cuman kita belum bisa memberi tahu jenis tanamanya," ujarnya, yang hobi melukis sejak kecil itu.
Tanaman itu diekstraksi untuk menggantikan penggunaan bahan yang berbahaya dalam pembalut.
Untuk lapisan anti-air yang umunya menggunakan plastik, Difa menggantinya dengan serat organik atau biofilm. Lapisan ini disebut Difa seperti plastik berbahan singkong yang bisa terurai di alam.
Saat ini, Difa mengaku pembalut tersebut masih dalam tahap pengembangan. Untuk urusan produksi, Difa masih menimbang-nimbang durasinya untuk satu pembalut.
Namun demikian, ia menyebut ada potensi besar pasar pembalut organik di Indonesia, terlebih karena sedikit orang yang tahu soal produk pembalut yang bisa terurai dan tumbuhan yang jadi resep rahasianya masih melimpah.
"Jadi setidaknya enggak kesulitan untuk masalah bahan bakunya," kata dia.
"Bahkan di Indonesia itu di tingkat nomor tiga dunia yang produksi tanaman ini, bisa ditemui di belakang pekarangan rumah," sambungnya.
Lewat kompetisi di Berlin, Jerman itu ia berharap bisa menjadi sorotan dunia sehingga selain mendapatkan uang tunai sebagai hadiah, mendapatkan kolaborasi penelitian hingga pendanaan agar segera bisa dikomersialkan.
"Pasti bakal dipublish kemana-manna, bakal banyak dapet perhatian dari banyak pihak, terutama banyak pusat penelirian Jerman. Jadi gak melulu ngarepin uang," katanya.