Jakarta, CNN Indonesia -- Twitter mulai membagi pendapatan iklan dengan para kreator konten di platform mereka pada Kamis (13/7) waktu Amerika Serikat. Namun, penerimanya belum merata dan diduga memprioritaskan kaum kanan alias konservatif.
Dikutip dari The Washington Post, penerima pendapatan pertama tampaknya adalah para influencer sayap kanan yang telah men-tweet sebelum pengumuman tentang berapa banyak yang mereka dapatkan dari program ini.
Kreator konten Ian Miles Cheong, Benny Johnson, dan Ashley St. Claire semuanya memuji pendapatan yang didapat dari pemilik Twitter, Elon Musk.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Wow, Elon Musk tidak bercanda. Monetisasi konten itu nyata," cuit akun anonim bernama End Wokeness, dengan 1,4 juta pengikut, disertai tangkapan layar yang menunjukkan penghasilan lebih dari US$10.400 atau sekitar Rp155 juta.
Sejauh ini, para influencer yang mengungkapkan secara terbuka bagian dari program ini adalah tokoh-tokoh yang pro-Elon Musk.
Andrew Tate, influencer yang kerap mengunggah konten misoginis, misalnya. Dia yang baru-baru ini dibebaskan dari penjara atas tuduhan pemerkosaan dan perdagangan manusia, mengunggag bahwa ia dibayar lebih dari US$20 ribu atau sekitar Rp229 juta oleh Twitter.
"Ini adalah perubahan yang bagus dari dilarang oleh Twitter selama hampir 2 tahun, menjadi dibayar untuk memposting. Terima kasih @elonmusk," cuit influencer Rogan O'Handley, yang dikenal sebagai DC Draino.
Namun, tidak semua influencer Twitter sayap kanan terkemuka tampaknya menjadi bagian dari program ini. Ketika ditanya apakah ia merupakan bagian dari program ini, Chaya Raichik, pencipta @libsoftiktok mengklaim bahwa hubungannya dengan Musk berjalan dengan baik.
Ia juga tidak menanggapi pertanyaan tentang apakah dia menerima pembayaran di bawah program ini.
"Saya rasa ada beberapa pembuat konten konservatif yang tidak senang," kata Kris Ruby, seorang influencer konservatif dan presiden Ruby Media Group.
"Sepertinya tidak merata. Saya rasa di lapangan bermainnya tidak seimbang."
Dia mengatakan bahwa beberapa orang di pihak kanan tidak diikutsertakan dalam program ini, meskipun memenuhi semua kriteria.
Twitter mengklaim dalam sebuah posting blog, bahwa bagian kreator dari pendapatan iklan didasarkan pada perhitungan balasan ke posting mereka dan tayangan bulanan.
Program ini hanya tersedia di negara-negara di mana Stripe, sebuah platform pembayaran, mendukung pembayaran, dan penerima harus membayar untuk Twitter Blue, layanan berlangganan bulanan dari platform tersebut sebagai syarat.
Memang tidak semua kreator yang ingin memonetisasi dapat melakukannya. Kreator yang mendaftar ke program ini harus melewati 'tinjauan manusia' dan saat ini belum ada aplikasi terbuka bagi mereka yang tertarik untuk bergabung.
Beberapa kontributor nonpolitik mengungkapkan rasa kecewa mereka karena kurangnya transparansi dari perusahaan atas peluncuran program ini.
"Tweet saya telah menghasilkan 100-an juta tayangan setiap tahun," kata Matt Navarra, seorang ahli strategi media sosial yang mengelola buletin pada teknologi.
"Dan saya telah berada di platform ini selama lebih dari 15 tahun. Sangat menyedihkan tidak ada bayaran yang saya terima. Twitter tidak pernah menghasilkan pendapatan secara langsung untuk semua konten yang telah saya masukkan ke dalamnya," sambungnya.
Strategi PR di halaman berikutnya...
Strategi PR dan Angka-angka Palsu
Salah satu influencer yang dibayar Twitter, Andrew Tate, pernah ditahan dalam tuduhan perkosaan dan perdagangan manusia. (REUTERS/Inquam Photos)
Mantan staf Twitter yang bekerja pada yang berfokus pada kreator menyatakan skeptisisme atas peluncuran ini, dengan beberapa menyebutnya sebagai aksi Humas alias PR.
Seorang mantan eksekutif Twitter yang bekerja pada kemitraan kreator yang tidak ingin disebutkan namanya untuk menghindari pembalasan, mengatakan monetisasi ini didasari pada model pendapatan di masa lalu.
"Segala jenis monetisasi konten yang kami lakukan di masa lalu didasarkan pada model pendapatan. Hal ini terasa seperti ditarik begitu saja untuk sebagian kecil kreator yang ingin ditenangkan."
Mantan eksekutif Twitter ini juga meragukan metrik Twitter yang telah dirombak, termasuk keterangan jumlah tayangan.
"Angka-angka tersebut benar-benar palsu," katanya.
"Itu semua benar-benar dibuat-buat. Ini benar-benar terasa seperti mereka secara sewenang-wenang menulis cek kepada orang-orang yang mereka sukai, yang bukan merupakan strategi kreator yang berkelanjutan," tuturnya.
Pengumuman Musk datang setelah saingannya di Twitter, Instagram, mengumumkan bahwa aplikasi mirip Twitter, Threads, telah melampaui 100 juta pengguna dalam waktu kurang dari seminggu.
[Gambas:Photo CNN]
Hal ini menjadikannya aplikasi dengan pertumbuhan tercepat sepanjang masa.
Jordan Lintz, pemilik HighKey Enterprises, sebuah firma hubungan masyarakat mengatakan Threads harus mengambil contoh dari penawaran monetisasi baru Twitter.
"Retensi pengguna Threads pada akhirnya akan turun," kata Lintz.
"Saya pikir siapa pun yang memberikan monetisasi terbaik akan memenangkan perlombaan retensi. Ini adalah sesuatu yang mungkin harus diperhatikan oleh Threads."
Jules Terpak, seorang pembuat konten dan pakar budaya digital, mengatakan sebagai seseorang yang sering ngetweet, prospek menghasilkan uang dari postingan sangat menarik.
Namun, dia mengamati bagaimana Musk akan menangani masalah-masalah pelik seperti pencurian konten dan bot.
Ia juga bertanya-tanya apakah skema monetisasi baru ini berkelanjutan, mengingat sulitnya Twitter untuk mempertahankan pendapatan iklan.
"Begitu saya melihat jumlah ini, pertanyaan pertama saya adalah bagaimana hal ini akan dipertahankan," katanya.
Merespons artikel The Washington Post tersebut, Elon Musk cuma berkomentar, "Liar Lorenz," merujuk pada penulis beritanya.