Menurut Purnomo, naiknya tarif taksi Blue Bird tidak bisa diputuskan sendirian karena perseroan merupakan anggota dari Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan (Organda). "Kalau BBM naik ya pasti tarifnya naik, tetapi keputusannya itu tunggu rapat Organda dulu. Kalau keputusan Organda naik, ya kita ikut naikkan tarif," ujar Purnomo di Jakarta, Jumat (3/10).
Wakil Presiden Direktur Blue Bird Sigit Priawan Djokosentono menggambarkan tahun lalu ketika harga BBM naik 44 persen, sesuai ketetapan Organda Blue Bird melakukan penyesuaian dengan menaikkan tarif 22 persen. Namun dia memastikan, manajemen Blue Bird telah menghitung kemungkinan lonjakan biaya operasional jika pemerintah menaikkan harga BBM dengan beberapa skenario. "Kami telah hitung semua dan membuat rencana, entah nanti harga BBM akan naik Rp 1.000 per liter atau langsung Rp 3.000 per liter," kata Sigit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya Eka Sari Lorena, Ketua Umum Organda memperkirakan naiknya harga BBM bersubsidi akan berdampak pada naiknya tarif angkutan umum sebesar 20-30 persen. Menurut Eka, Organda telah melaporkan rencana kenaikan tarif angkutan umum tersebut kepada Kementerian Perhubungan dan akan direalisasikan pada saat harga BBM bersubsidi naik. "Naiknya biaya operasional kami selain dari BBM juga dari naiknya harga suku cadang," kata Eka.
Insentif Supir
Purnomo menambahkan, naiknya harga BBM bersubsidi tentu akan berdampak pada tingkat keterisian taksi Blue Bird selama beberapa bulan pertama ketika kebijakan tersebut diberlakukan. Sepinya penumpang taksi tentu akan membuat penghasilan supir taksi turun.
"Harga BBM naik, tentu biaya hidup supir dan keluarganya ikut naik. Hal ini semakin sulit karena biasanya setelah tarif taksi naik, penumpangnya langsung berkurang. Untuk itu kami tengah membahas kebijakan baru untuk memberi insentif bagi supir," kata Purnomo. Dia mencontohkan, jika dalam satu hari seorang supir mengalami kerugian misalkan akibat kecelakaan maka perusahaan yang akan menanggungnya.
"Kami punya filosofi penumpangnya sepi atau tidak, supir itu harus tetap bisa bawa pulang uang ke rumah," ujar Purnomo.