"Kalau program infrastruktur yang dijanjikan pemerintah berjalan, pastinya penjualan beton pracetak akan naik. Kami akan mendorong produsen beton pracetak untuk terus meningkatkan produksinya," ujar Sekretaris Umum IAPPI, Ari N. Nurjaman, Selasa (7/10).
Meski prospektif, bisnis penjualan beton pracetak dibayangi wacana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubdisi yang rencananya direalisasikan November 2014. Hediyanto Husaini, Kepala Badan Pembinaan Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum memperkirakan kenaikan harga BBM sebesar Rp 3.000 per liter akan menaikkan harga jual beton pracetak sekitar 15 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berangkat dari hal tersebut, pemerintah akan mendorong para produsen untuk bisa meningkatkan produksinya untuk diekspor keluar negeri sehingga bisa menambah pendapatan perusahaan. "Negara-negara Eropa membutuhkan banyak beton. Ada juga permintaan dari China dan India yang sebenarnya bisa kita penuhi," ujarnya.
Sebagai informasi, dari 50 juta ton jumlah produksi semen Indonesia sebanyak 6 juta ton atau 12 persen diantaranya diolah menjadi beton pracetak dan prategang. Sedangkan 44 juta ton lainnya dijual untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan internasional.