Infrastruktur

Proyek Tanggul Raksasa Diresmikan

Ellisa Valenta, CNN Indonesia | Kamis, 09/10/2014 18:17 WIB
Proyek Tanggul Raksasa Diresmikan Menteri Kordinator Ekonomi Chairul Tanjung (Detik/Grandyos Zafna)
Jakarta, CNN Indonesia -- Demi mengantisipasi banjir dan menyediakan air bagi warga Jakarta, Pemerintah meresmikan pembangunan konstruksi proyek tanggul laut raksasa atau giant sea wall.

"Dari 32 km (kilometer) total garis pantai, 8 km diantaranya menjadi tanggungjawab Pemerintah Pusat dan Pemprov, sementara 24 km lainnya akan dikelola oleh swasta," ujar Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung disaat peresmian, Kamis (9/10).

Pembangunan giant sea wall merupakan bagian dari mega proyek National Coastal Integrated Capital Development (NCICD) antara Pemerintah Pusat, Provinsi DKI Jakarta dan pengusaha. Pada tahap pertama, pembangunan tanggul difokuskan pada penguatan garis pantai Jakarta sepanjang 32 kilo meter. Fase ini, pengerjaan mencakup penguatan tanggul serta pemasangan stasiun pompa dengan biaya investasi mencapai US$ 1,9 miliar.


Tahap kedua pembangunan proyek tersebut mulai dilakukan pada bagian luar tanggul dan mereklamasi laut seluas 1.250 hektar hingga 4.000 hektar. Fase yang dimulai sejak 2018 hingga 2022 itu, juga akan dibuat jalan tol mulai dari Tangerang dan Bekasi berikut stasiun pompa dan pintu air, pemindahan jaringan pipa hingga restorasi hutan bakau dengan biaya investasi mencapai US$ 4,8 miliar. Sedangkan pada tahap ketiga, proyek pembangunan dikonsentrasikan ke bagian luar tanggul di sisi timur Jakarta. Tapi, rencana ini belum ditentukan karena penurunan muka tanah di kawasan timur Jakarta masih relatif lambat.

Selain membangun sebuah tanggul laut, Pemerintah juga berencana mereklamasi 17 pulau yang akan difungsikan menjadi sebuah kawasan terpadu. "Ini bikin tanggul dulu biar Jakarta utara nggak banjir. Tiap tahun mereka menderita karena banjir rob," kata CT.

Deputi Gubernur DKI Jakarta Sarwo Handayani menambahkan, pembangunan tanggul raksasa dilatarbelakangi karena 40 persen tanah Jakarta berada dibawah permukaan laut. "Posisi Jakarta juga terus turun karena air tanah diambil secara berlebihan. Kalau tidak ada giant sea wall, lama-lama bisa banjir besar," ungkap Handayani.