"Kondisi perikanan di Indonesia sangat ironis, seperti tikus mati di lumbung padi," kata Susi dalam konferensi pers yang digelar di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Minggu malam (26/10).
Dia menyayangkan, jumlah ekspor produk perikanan di Indonesia tidak lebih besar dari negara tetangga seperti Thailand. Padahal dengan potensi garis pesisir pantai yang menyelimuti nusantara sebanyak 70 persen, kemaritiman Indonesia seharusnya dapat lebih maju.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Susi mencontohkan devisa yang didapat dari daerah tempat tinggalnya di Pangandaran, Jawa Barat. "Nelayannya kurang lebih 5.800 orang di satu kecamatan. Garis pantai sampai Tasikmalaya itu ada enam kecamatan, kurang lebih 45 kilometer persegi. Kalau ditotal, kira-kira devisanya paling tidak 15 sampai US$ 30 juta," katanya.
Untuk mencapai target itu, Susi berpendapat, pengelolaan industri perikanan dapat dilakukan dengan beragam cara. Salah satunya dilandaskan pada asas ramah lingkungan. "Lobster yang bertelur jangan ditangkap, lobster yang kecil jangan ditangkap, dan mata jaring diperkecil," katanya.
Apabila sudah ada peraturan daerah yang mengikat tata cara penangkapan hasil laut tersebut, dia optimistis ikan asal Indonesia mampu menjadi penggerak ekonomi.
"Saya akan coba dengan posisi saya untuk melakukan itu. Tapi ini masih harus dibicarakan program-program dan solusi apa saja yang akan dilakukan," katanya.
Merujuk pada data Biro Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor non-migas pada Desember 2013 mencapai US$ 13,58 miliar yang terdiri dari produk hasil pertanian (termasuk perikanan) senilai US$ 0,48 miliar dan hasil industri US$ 10 miliar. Sementara itu, nilai ekspor hasil tambang dan lainnya sebesar US$ 3,09 miliar.