Industri Tekstil

Bangun 7 Pabrik, Pan Brothers Kucurkan US$ 65 Juta

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Senin, 01/12/2014 16:52 WIB
Bangun 7 Pabrik, Pan Brothers Kucurkan US$ 65 Juta (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan garmen PT Pan Brothers Tbk (PBRX) berencana mengucurkan dana investasi hingga US$ 65 juta untuk membangun tujuh pabrik selama tiga tahun ke depan secara bertahap.

Wakil Direktur Utama Pan Brothers Anne Patricia Sutanto mengatakan untuk membangun setiap pabrik diperkirakan menghabiskan dana US$ 8,6 juta. Sepanjang 2014 ini Pan Brothers telah menghabiskan US$ 34,3 juta untuk membangun empat pabrik.

“Tahun 2015 akan dibangun dua pabrik baru dan pada 2016 akan dibangun satu pabrik lagi,” ujarnya dalam paparan publik di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (1/12).


Anne menjelaskan sebelum penambahan empat pabrik baru tahun ini, kapasitas produksi Pan Brothers tercatat sebanyak 42 juta pakaian jadi per tahun. Dengan beroperasinya empat pabrik baru, Pan Brothers akan menambah kapasitas produksi menjadi 90 juta pakaian jadi per tahun.

“Empat pabrik yang kami bangun di 2014 terletak di Boyolali, Jawa Tengah. Dua dari empat pabrik itu sudah beroperasi penuh, sementara dua pabrik lainnya selesai pembangunan fisiknya November. Kami masih harus merekrut dan melatih karyawan hingga Januari 2015, sehingga baru akan beroperasi penuh Maret 2015,” kata Anne.

Dari sisi belanja modal, sejak Januari hingga September 2014 perseroan telah menyuntikkan dana sebesar US$ 28 juta. Hingga akhir tahun, Pan Brothers masih terus mengeluarkan investasi sampai berjumlah US$ 30 juta untuk empat pabrik tersebut.

“Di 2015, perseroan menyiapkan dana sampai US$ 40 juta. Sebesar US$ 17 juta digunakan untuk pembangunan dua pabrik joint venture dengan Mitsubishi, sedangkan US$ 3 juta untuk maintenance, dan dari sisi organic US$ 20 juta,” terangnya.

Sampai kuartal III 2014, Pan Brothers mengalami penurunan laba bersih 37,23 persen menjadi US$ 5,31 juta dari realisasi laba bersih kuartal III 2013 sebesar US$ 8,46 juta.

Penurunan kinerja keuangan tersebut disebabkan oleh penundaan beberapa pengiriman barang atas permintaan pembeli. Hal itu membuat barang yang seharusnya diekspor dan masuk ke dalam penjualan, berubah menjadi persediaan.