“Wilayah Indonesia begitu luas, jumlah penduduk besar, infrastruktur yang dibutuhkan banyak. Jalan aja kita jauh banget, mungkin hanya sepersepuluhnya dari China. Jadi kebutuhan jalan dan kebutuhan gedung di berbagai daerah masih tinggi,” ujarnya di Jakarta, Jumat (16/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
”Meski bagi produsen semen bakal negatif dalam jangka pendek, tapi secara jangka panjang saya kira positif. Dan saya yakin pemerintah juga tidak ingin perusahaan itu, apalagi BUMN, merugi,” ujarnya.
Dia juga berharap semestinya bukan hanya harga semen yang turun. Harga kebutuhan lain termasuk biaya transportasi umum juga ikut menyesuaikan sehingga dampak dari kebijakan itu bisa dirasakan lebih banyak pihak dan berdampak lebih luas.
Sebelumnya, perusahaan pelat merah terbesar di industri semen, PT Semen Indonesia Tbk. menyatakan siap mengikuti instruksi pemerintah untuk menurunkan harga jual sebesar Rp 3.000 per sak, meski dalam jangka pendek dinilai bakal mengganggu target penjualan. (Baca: Semen Indonesia Turuti Pemerintah Meski Berdampak Negatif)
”Ya intinya kita support program pemerintah. Kita dukung penuh,” kata Corporate Secretary Semen Indonesia, Agung Wiharto, Jumat (16/1).
Untuk diketahui, Semen Indonesia adalah induk dari tiga perusahaan produsen semen yang beroperasi yaitu PT Semen Gresik, PT Semen Padang, dan PT Semen Tonasa. Adapun produk dari ketiga perseroan tersebut juga harus mengurangi harga penjualan sebesar Rp 3.000 per sak. (gir/gir)