Hal tersebut diungkapkan Rafdi Samid, salah satu mantan pegawai Merpati dalam sebuah acara diskusi di Jakarta, Rabu (21/1). Menurut Rafdi, sejak Desember 2013 sampai Desember 2014 total gaji karyawan Merpati yang belum dibayarkan manajemen mencapai Rp 341,8 miliar. Karena tidak juga memperoleh kepastian dari pemerintah, Rafdi mengaku dengan berat hati harus meninggalkan maskapai tempatnya bekerja selama kurang lebih delapan tahun terakhir tersebut.
“Ada kesan di karyawan, pemerintah telah memilih untuk mematikan Merpati secara perlahan-lahan. Padahal di dalam sendiri kalaupun dibubarkan tidak apa-apa, asalkan total hak pegawai termasuk gaji dan pesangon sebesar Rp 1,45 triliun dibayarkan,” kata Rafdi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Apakah Citilink sudah berstatus BUMN aviasi dan apakah Menteri BUMN punya kepentingan dengan Citilink. Merpati bukanlah kompetitor Citilink karena Merpati fokus melayani penerbangan di Indonesia Timur," ujarnya.
"Pemerintah sebaiknya menghidupkan kembali Merpati melalui kerjasama dengan pemerintah daerah," jelasnya.
FPM memperkirakan biaya untuk menghidupkan kembali Merpati adalah sekitar Rp 400 miliar hingga Rp 500 miliar. Sebagai informasi, total utang Merpati per 31 Januari 2014 adalah Rp 7,64 triliun dan apabila Merpati dinyatakan tutup di tahun 2015 total utangnya mencapai Rp 9,22 triliun. Sementara itu, dalam RAPBNP 2015 pemerintah telah memastikan tidak mengusulkan lagi Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk Merpati.
Sebelumnya Sekretaris Jenderal FPM Ery Wardhana mengatakan separuh dari total 2 ribu karyawan Merpati telah mengundurkan diri dari perusahaan tersebut. Sementara itu, tak satupun dari 178 pilot di Merpati yang memutuskan bertahan dengan memilih bekerja untuk maskapai lain. (gen)