Berdasarkan data Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI), dari 20 besar broker yang memiliki nilai transaksi tertinggi, hanya empat sekuritas lokal milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ada dalam deretan daftar itu. Sementara, 13 lainnya merupakan perusahaan asing dan tiga lainnya merupakan perusahaan swasta lokal.
Ketua Umum APEI Susy Meilina mengatakan dalam persaingan dengan negara Asean di masyarakat ekonomi Asean (MEA) pada Desember 2015, industri keuangan termasuk perusahaan sekuritas harus memiliki standardisasi. Hal ini penting agar kualitas perusahaan lokal tidak kalah dengan perusahaan asing yang masuk ke Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Fee makin turun, bagian yang diperoleh broker juga makin tipis. Sejak dulu memang sudah terjadi persaingan, beberapa tahun lalu sempat ada fee 0,35 persen yang kami pikir sangat rendah, tetapi sekarang ada yang di bawah 0,15 persen, sudah sangat tidak sehat, pembagian ke sales juga berkurang,” kata Susy di Jakarta, Kamis (29/1).
Ditemui di tempat yang sama Agus Captarina, Direktur Pengawasan Lembaga Efek OJK mengatakan selama ini pemerintah memang memandang pemain asing memiliki segmen tersendiri yang tidak dimiliki oleh perusahaan sekuritas lokal.
"Secara knowledge dan skill berbeda. Broker lokal seharusnya punya pemahaman yang lebih dari asing," ujar Agus.
Menurutnya pemerintah akan mengkaji ulang kebijakan memproteksi industri sekuritas dari gempuran pemain asing dengan syarat level permainan perusahaan lokal aktivitasnya harus diatas asing. "Kalaupun diproteksi, akan ada tingkat permainan yang berbeda," ujarnya. (gen)