"Saya memang belum mendapat laporan detail mengenai rencana MoU antara ACL dan Proton. Namun segala bentuk rencana investasi di sektor otomotif harus diapresiasi dan didukung,” kata Panggah Susanto, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin di Jakarta, Senin (9/2).
Menurut Panggah, perusahaan nasional memang diharapkan bisa mengundang mitra dari luar negeri untuk membangun pabrik otomotif di Indonesia sehingga tercatat sebagai investasi sektor riil yang bisa bermanfaat bagi perekonomian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Perindustrian Saleh Husin memastikan kerjasama yang dilakukan melalui penandatanganan MoU antara ACL dengan Proton, bukanlah upaya pemerintah dalam memulai kembali program mobil nasional (mobnas).
Saleh menjelaskan, MoU itu dibuat dan berlaku selama enam bulan ke depan sambil melakukan studi kelayakan. Sampai saat ini, pemerintah menurut Saleh belum berpikir untuk membuat lagi program mobil nasional.
Sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga telah memastikan MoU antara Proton dan ACL bukanlah bagian dari program pemerintah dalam membuat program mobil nasional.
“Belum sama sekali. Bahkan studi kelayakannya juga belum. Saya kan harus melihat studi kelayakan seperti apa, kemudian targetnya yang harus dicapai seperti apa,” kata Jokowi disela kunjungannya ke Manila, Filipina, seperti dikutip dari laman Sekretariat Kabinet.
Menurut Jokowi, MoU yang dibuat antara Proton dan ACL adalah murni kesepakatan bisnis antar perusahaan. Dia memastikan kehadirannya di acara tersebut adalah untuk memenuhi undangan mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad dan Perdana Menteri Mohammad Najib Tun Abdul Razak.
“Kalau investasi ya silahkan, mau dari Korea juga silahkan, mau dari Jepang yang sudah banyak dan mau investasi lebih besar lagi silahkan, kita butuh investasi,” tutur Jokowi. (gen)