PLN Siap Tampung Kelebihan Produksi LNG

Diemas Kresna Duta, CNN Indonesia | Selasa, 10/02/2015 17:40 WIB
PLN Siap Tampung Kelebihan Produksi LNG Dirut PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sofyan Basir dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VII DPR RI, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu, 21 Januari 2015. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir menyatakan pihaknya siap membeli kelebihan produksi atau uncommited gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) yang tahun ini diperkirakan mencapai 23,5 kargo. Keinginan tersebut berangkat dari rencana perseroan yang akan mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) sebagai bahan baku pembangkit listrik.

"Untuk mengganti mesin-mesin diesel, kami akan berorientasi dengan gas. Kalau ada kelebihan (gas) pastinya kami akan mencari solusi (menawar harga) karena kami butuh banyak," ujar Sofyan di Jakarta, Selasa (10/2).

Tahun ini, PLN diketahui membutuhkan gas mencapai 475 triliun british thermal unit (TBTU) atau setara dengan 50 kargo. Dari angka pasokan yang ada sekarang, perusahaan listrik pelat merah tersebut masih mengalami kekurangan sebanyak 20 kargo gas.


Untuk bisa menutupi kekurangannya, PLN sedang mencari penjual yang menawarkan LNG di kisaran US$ 7 sampai US$ 8 per mmbtu. "Kalau Pertamina sepakat soal harga, pastinya kami akan beli dari mereka. Saya pikir angka itu masih bersaing," kata mantan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk itu.

Sebelumnya, Direktur Pengusahaan Hulu Migas Kementerian ESDM, Naryanto Wagimin mengisyaratkan akan menjual kelebihan LNG ke pelaku usaha dalam negeri.

"Posisinya sekarang, pemerintah memang meminta harga jual LNG tersebut di angka US$ 10 per MMBTU. Tapi kalau ada pembeli di dalam negeri yang hanya sanggup membeli secara spot dengan harga lebih rendah dari itu bisa saja pemerintah menyetujuinya. Menghentikan produksi gas itu tidak mudah," kata Naryanto di Jakarta, Senin (9/2).

Pria yang juga ikut serta dalam proses seleksi lelang jabatan untuk posisi Direktur Jenderal (Dirjen) Migas itu mengaku mendengar bahwa PT PLN (Persero), pabrik pupuk, dan pabrik petrokimia bersedia untuk membeli LNG tersebut di harga US$ 7,5 per MMBTU. Namun, pemerintah melalui SKK Migas dan PT Pertamina (Persero) yang menjadi penunjuk penjual LNG disebutnya belum menerima penawaran resmi dari perusahaan mana pun. (ags/ags)