"Untuk mengganti mesin-mesin diesel, kami akan berorientasi dengan gas. Kalau ada kelebihan (gas) pastinya kami akan mencari solusi (menawar harga) karena kami butuh banyak," ujar Sofyan di Jakarta, Selasa (10/2).
Tahun ini, PLN diketahui membutuhkan gas mencapai 475 triliun british thermal unit (TBTU) atau setara dengan 50 kargo. Dari angka pasokan yang ada sekarang, perusahaan listrik pelat merah tersebut masih mengalami kekurangan sebanyak 20 kargo gas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Direktur Pengusahaan Hulu Migas Kementerian ESDM, Naryanto Wagimin mengisyaratkan akan menjual kelebihan LNG ke pelaku usaha dalam negeri.
"Posisinya sekarang, pemerintah memang meminta harga jual LNG tersebut di angka US$ 10 per MMBTU. Tapi kalau ada pembeli di dalam negeri yang hanya sanggup membeli secara spot dengan harga lebih rendah dari itu bisa saja pemerintah menyetujuinya. Menghentikan produksi gas itu tidak mudah," kata Naryanto di Jakarta, Senin (9/2).
Pria yang juga ikut serta dalam proses seleksi lelang jabatan untuk posisi Direktur Jenderal (Dirjen) Migas itu mengaku mendengar bahwa PT PLN (Persero), pabrik pupuk, dan pabrik petrokimia bersedia untuk membeli LNG tersebut di harga US$ 7,5 per MMBTU. Namun, pemerintah melalui SKK Migas dan PT Pertamina (Persero) yang menjadi penunjuk penjual LNG disebutnya belum menerima penawaran resmi dari perusahaan mana pun. (ags/ags)