“Boleh dikatakan, Proton saat ini masih berdagang. Belum menjadi industri. Harus melalui pengajuan dulu,” jelasnya di Jakarta, Rabu (11/2).
Mengenai investasi Proton ke Indonesia, Franky mengungkapkan sejauh ini belum ada pengajuan ke BKPM. Dia menjelaskan pembicaraan investasinya pun belum dilakukan oleh perusahaan oomotif Malaysia tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam rangka pengembangan mobil nasional, Franky menilai pemerintah harus realistis. Sekalipun terealisasi, maka seluruhnya harus dipegang dan diawasi oleh pemerintah dengan kandungan komponen lokal mendekati 100 persen.
"Yang pasti mobilnya Low Cost Green Car (LCGC) atau mobil murah ramah lingkungan. Komponen lokalnya mendekati 100 persen dan bahkan desain serta konstruksinya harus dibuat oleh orang Indonesia. Itu bisa disebut mobil nasional," ujar Franky.
Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo dalam lawatannya ke Malaysia menyempatkan diri menyaksikan penandatangan perjanjian kerjasama pengembangan mobil nasional antara Proton Holdings Bhd dengan PT Adiperkasa Citra Lestari (ACL), perusahaan milik AM Hendropriyono. Belakangan, Jokowi membantah kalau komitmen kerjasama tersebut terkait pengembangan mobil nasional. (ags/gen)