Didik Rachbini: Konflik KPK-Polri Berisiko Fatal ke Ekonomi

Yohannie Linggasari, CNN Indonesia | Sabtu, 14/02/2015 17:37 WIB
Didik Rachbini: Konflik KPK-Polri Berisiko Fatal ke Ekonomi Ekonom senior Didik J. Rachbini menilai konflik politik dan hukum yang berkepanjangan serta melibatkan Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) dan Kepolisian RI (Polri) membuat kepercayaan pelaku pasar kepada pemerintah menurun. Dia mengingatkan akibat fatal yang berpotensi terjadi jika petinggi Istana Negara tidak segera turun tangan menyelesaikannya.(REUTERS/Brendan McDermid)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekonom senior Didik J. Rachbini menilai konflik politik dan hukum yang berkepanjangan serta melibatkan Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) dan Kepolisian RI (Polri) membuat kepercayaan pelaku pasar kepada pemerintah menurun. Dia mengingatkan akibat fatal yang berpotensi terjadi jika petinggi Istana Negara tidak segera turun tangan menyelesaikannya.

"Nantinya pasar akan mempertanyakan kemampuan pemerintah menjalankan kepemimpinan," kata Didik seusai diskusi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (14/2).

Didik, yang juga politisi Partai Amanat Nasional (PAN), menyayangkan kisruh KPK dan Polri terjadi di tengah kondisi ekonomi yang belum sembuh'. Sejauh ini diakuinya konflik kedua entitas hukum tersebut belum terlalu mengganggu investasi. “Namun, kalau berlarut larut, bahaya. Sebagian orang akan berpendapat bahwa investasinya menggantung,” tuturnya.


Di sisi lain, pemerintah masih punya tugas berat untuk menstabilkan ekonomi. Hal itu tercermin dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang tidak stabil serta posisi neraca perdagangan Indonesia yang masih defisit. Menurutnya, Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla belum menemukan pola kebijakan ekonomi yang diyakini pelaku pasar akan menstabilkan makroekonomi.

"Masyarakat dihadang masalah politik dan hukum yang dibuat-buat sendiri oleh pemerintah. Coba, kasus KPK dan Polri siapa yang bikin? Yang bikin 'kan istana," katanya.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menilai Indonesia memperoleh dampak positif dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar, salah satunya terhadap kegiatan perdagangan yaitu ekspor.

"Banyak faktor yang mempengaruhi rupiah bisa melemah, tapi ini masih dalam batas stabil. Jadi it's OK dan ekspor akan lebih baik," ujar JK baru-baru ini.

Menurut JK, dengan ekspor yang tinggi maka peluang mengurangi impor akan semakin tinggi pula. Kendati melihat peluang yang besar mantan Ketua Umum Partai Golkar tidak menampik bahwa melemahnya rupiah sewaktu-waktu akan bisa berbalik sehingga semua kesempatan atau peluang ekonomi harus dicermati dengan baik.  (ags/ags)