Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat peranan konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB) 2014 sebesar 56,07 persen, melemah sedikit dibandingkan dengan kontribusi tahun lalu 56,2 persen. Konsumsi swasta ini hanya tumbuh 5,14 persen, emlambat jika dibandingkan pertumbuhan 2013 yang sebesar 5,38 persen.
"Konsumsi rumah tangga mengalami penurunan, terutama konsumsi terhadap pakaian, alas kaki dan alat perawatan. Ini yang paling banyak mendorong pelambatan ekonomi," jelas Kepala BPS Suryamin saat jumpa pers di kantornya, Kamis (5/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Termasuk di akhir-akhir tahun bantuan sosial (Bansos) seperti raskin juga berkurang, dan itu berpengaruh terhadap masyarakat menengah ke bawah," katanya.
Suryamin mengatakan komponen pengeluaran lain yang juga memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah aktivitas ekspor dan impor yang lesu. Ekspor tercatat hanya tumbuh 1,02 persen, jauh di bawah pencapaian 2013 yang sebesar 4,17 persen.
Dari faktor global pelambatan ekonomi negara-negara tujuan ekspor seperti Tiongkok dan Eropa ditengarai memberikan pengaruh besar terhadap penurunan angka ekspor Indonesia.
"Walaupun defisit neraca kita menurun tapi kan masih turun permintaan barang-barang ekspor dari negara-negara tujuan ekspor dan nilai tukar masih tinggi nah Ini juga menyebabkan penurunan konsumsi rumah tangga," katanya.
(ags/ags)