Deputi Bidang Statistik Distribusi Barang dan Jasa Sasmito Hadi Wibowo menilai deflasi tersebut merupakan hal yang jarang terjadi. Pasalnya berdasarkan catatan inflasi BPS dalam 50 tahun terakhir, deflasi pada Februari hanya pernah terjadi empat sampai lima kali saja.
Deflasi Februari 2015 yang sebesar 0,36 persen, kata Sasmito, merupakan yang kedua terbesar selama sekitar 50 tahun terakhir. Deflasi paling rendah terjadi pada Februari 1985 yang mencapai 0,5 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sasmito mengatakan, kebijakan pemerintah yang responsif menurunkan harga BBM ketika harga minyak dunia ikut turun sangat berperan dalam meyumbang angka deflasi Februari.
Perkiraan BPS, harga pangan akan mengalami penurunan pada bulan Maret hingga April akibat mulai memasuki masa panen raya. Sasmito juga optimistis nantinya harga beras akan kembali normal.
Prediksi Inflasi Maret
Didorong sejumlah kenaikan harga barang di awal Maret 2015, BPS juga memprediksi inflasi masih berpotensi membayangi Indonesia di bulan Maret. Kenaikan harga gas elpiji, harga premium dan pertamax hingga kenaikan tarif sejumlah tiket kereta menjadi pemicu iflasi.
Namun Sasmito berkeyakinan, adanya panen raya pada Maret-April mampu mengimbangi angka inflasi akibat kenaikan harga-harga tersebut.
"Biasanya Maret rendah karena ada indikasi harga gabah rendah dan beras juga akan mengikuti rendah, akan ada balance dari kenaikan dan penurunan tersebut, mungkin inflasi tidak sampai 0,5 persen," ujarnya. (gen)