Satu Emiten Batubara Setop Produksi Akibat Rendahnya Harga
CNN Indonesia
Rabu, 04 Mar 2015 10:21 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan tambang batubara PT Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO) berencana menghentikan kegiatan produksi untuk sementara, karena memburuknya harga komoditas emas hitam tersebut. Selain menghindari rugi hingga US$ 1,65 juta, sebagai konsekuensi dari kebijakan tersebut perseroan juga bakal merumahkan 409 karyawannya.
Berdasarkan materi paparan publik GTBO yang dikutip pada Rabu (4/3), disebutkan bahwa bakal terjadi penghematan sebesar US$ 986.242 untuk tiga bulan apabila perseroan menghentikan kegiatan penambangan. Sementara, jika perseroan meneruskan produksi bisa mengakibatkan kerugian kas US$ 1,65 juta.
“Pasokan yang kuat dan lemahnya pertumbuhan permintaan di pasar batubara merupakan penyebab utama pelemahan pasar saat ini,” tulis perseroan dalam materi presentasi tersebut.
Manajemen GTBO menilai ketersediaan pasokan terbentuk karena distorsi pasokan, kontrak infrastuktur, dan pembayaran utang. Bagi GTBO, lebih murah untuk memproduksi dan menjual rugi daripada merasionalisasi produksi.
“Selama ini perusahaan tambang meningkatkan produksi untuk mengurangi biaya batubara per unit dan mempertahankan arus kas. Sementara kami melakukan rasionalisasi produksi selama 2014 sebanyak 118 juta ton, akan tetapi rasionalisasi menjadi tidak berarti karena adanya peningkatan produksi di tempat lain,” bunyi materi presentasi tersebut.
Pertumbuhan permintaan untuk pembangkit yang melambat ditambah generasi pembangkit berbasis hydro yang meningkat, pengetatan kredit, gerakan pengurangan polusi, strategi penetapan harga dalam negeri yang agresif juga turut membebani keuangan perseroan.
Ekspansi pasokan ekspor masih akan terjadi seperti ekspor Indonesia pada tahun 2012 adalah 345 juta ton lalu meningkat menjadi 412 juta ton pada 2014. Permintaan dari Tiongkok yang melemah jadi salah satu faktornya.
Permintaan dari negeri tirai bambu tersebut berkurang dari 7,1 persen pada 2013 menjadi kurang dari 3 persen pada 2014. Sementara dari dalam negeri, perseroan menyatakan biaya produksi di Indonesia turun 13 persen, namun margin menipis karena penurunan harga. Biaya penambangan yang sekitar 45 persen dari total biaya tunai di 2004, saat ini menjadi 70 persen – 75 persen dari total biaya tunai.
Sementara biaya per unit dari total biaya menurun karena peningkatan volume produksi. Karena harga juga yang rendah, margin laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) menjadi nol atau bahkan negatif;
“Saat ini sekitar 60 persen dari penambang beroperasi dengan margin negatif, penambang kecil menghadapi masalah arus kas yang akan memaksa mereka untuk keluar, akibatnya akan mendukung harga,” jelas perseroan.
Kondisi GTBO
Perseroan menyatakan produksi yang rendah karena musim hujan sehingga mengakibatkan kenaikan biaya dan biaya pemeliharaan yang lebih tinggi untuk peralatan pertambangan serta infrastruktur.
GTBO menyatakan masih akan melakukan operasional, dengan fokus penjualan persediaan. Perseroan masih memiliki pendapatan dari penjualan persediaan. Selain itu bakal melakukan pemeliharaan pertambangan dan infrastuktur.
Sementara itu, sebagian besar karyawan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan masih ada yang bekerja normal seperti staff Akunting, Compliance, Corporate Secretary, dan Marketing.
Lebih lanjut, perseroan mengungkapkan persediaan batubara per 28 Februari 2015 masih ada sebanyak 345.200 metrik ton. Sementara itu, cadangan terbukti yang tersisa (Proven Reserve) per 31 Desember 2014 (unaudited) tercatat sebanyak 87,49 juta metrik ton.
“Pembeli kami adalah pemasok ke pasar India. Saat ini pasar India sedang mengalami perubahan struktural. Kami berharap dapat mulai melakukan penjualan lagi mulai bulan Mei 2015 dan seterusnya,” tulis manajemen.
Add
as a preferred
source on Google
Berdasarkan materi paparan publik GTBO yang dikutip pada Rabu (4/3), disebutkan bahwa bakal terjadi penghematan sebesar US$ 986.242 untuk tiga bulan apabila perseroan menghentikan kegiatan penambangan. Sementara, jika perseroan meneruskan produksi bisa mengakibatkan kerugian kas US$ 1,65 juta.
“Pasokan yang kuat dan lemahnya pertumbuhan permintaan di pasar batubara merupakan penyebab utama pelemahan pasar saat ini,” tulis perseroan dalam materi presentasi tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Selama ini perusahaan tambang meningkatkan produksi untuk mengurangi biaya batubara per unit dan mempertahankan arus kas. Sementara kami melakukan rasionalisasi produksi selama 2014 sebanyak 118 juta ton, akan tetapi rasionalisasi menjadi tidak berarti karena adanya peningkatan produksi di tempat lain,” bunyi materi presentasi tersebut.
Ekspansi pasokan ekspor masih akan terjadi seperti ekspor Indonesia pada tahun 2012 adalah 345 juta ton lalu meningkat menjadi 412 juta ton pada 2014. Permintaan dari Tiongkok yang melemah jadi salah satu faktornya.
Permintaan dari negeri tirai bambu tersebut berkurang dari 7,1 persen pada 2013 menjadi kurang dari 3 persen pada 2014. Sementara dari dalam negeri, perseroan menyatakan biaya produksi di Indonesia turun 13 persen, namun margin menipis karena penurunan harga. Biaya penambangan yang sekitar 45 persen dari total biaya tunai di 2004, saat ini menjadi 70 persen – 75 persen dari total biaya tunai.
Sementara biaya per unit dari total biaya menurun karena peningkatan volume produksi. Karena harga juga yang rendah, margin laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) menjadi nol atau bahkan negatif;
“Saat ini sekitar 60 persen dari penambang beroperasi dengan margin negatif, penambang kecil menghadapi masalah arus kas yang akan memaksa mereka untuk keluar, akibatnya akan mendukung harga,” jelas perseroan.
Kondisi GTBO
Perseroan menyatakan produksi yang rendah karena musim hujan sehingga mengakibatkan kenaikan biaya dan biaya pemeliharaan yang lebih tinggi untuk peralatan pertambangan serta infrastruktur.
GTBO menyatakan masih akan melakukan operasional, dengan fokus penjualan persediaan. Perseroan masih memiliki pendapatan dari penjualan persediaan. Selain itu bakal melakukan pemeliharaan pertambangan dan infrastuktur.
Sementara itu, sebagian besar karyawan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan masih ada yang bekerja normal seperti staff Akunting, Compliance, Corporate Secretary, dan Marketing.
Lebih lanjut, perseroan mengungkapkan persediaan batubara per 28 Februari 2015 masih ada sebanyak 345.200 metrik ton. Sementara itu, cadangan terbukti yang tersisa (Proven Reserve) per 31 Desember 2014 (unaudited) tercatat sebanyak 87,49 juta metrik ton.
“Pembeli kami adalah pemasok ke pasar India. Saat ini pasar India sedang mengalami perubahan struktural. Kami berharap dapat mulai melakukan penjualan lagi mulai bulan Mei 2015 dan seterusnya,” tulis manajemen.
Add
as a preferred source on Google