Hal tersebut diungkapkan Bambang usai menghadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Kepresidenan hari ini, Kamis (5/3).
“Nanya hal yang sama dari kemarin, gak ah. Pertanyaan berulang gak laku buat saya,” ujar Bambang sambil mempercepat langkahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Jawabannya sama untuk pengamat, jangan bikin panik masyarakat. Udah gitu aja,” katanya.
"Memang yang sekarang terjadi adalah penguatan mata uang Amerika terhadap semua mata uang," kata Mirza.
Dia menjelaskan selain faktor Amerika Serikat, keputusan negara Ukraina yang menaikan suku bunga acuan dari 19,5 persen ke 30 persen turut menekan sentimen kepada negara-negara emerging market termasuk Indonesia.
"Tapi problem di Ukraina kan bukan problem moneter sebenarnya. Problem di Ukraina adalah problem politik internasional," ujarnya.
Selain Ukraina, sentimen global juga datang dari Tiongkok yang baru saja memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi negaranya menjadi tujuh persen. Mirza mengatakan pasar dunia akan sangat bereaksi dengan ekspektasi pertumbuhan negara tirai bambu itu.
"Pasti negara-negara yang ketergantungannya ekspor ke Tiongkok juga akan terkena sentimen negatif," katanya.
Namun dia meyakinkan BI akan terus memantau pasar valas dan siap melakukan intervensi apabila diperlukan. “BI selalu ada di pasar. Dan untuk mengurangi volatilitas, supaya juga suplai valas terus selalu tersedia di pasar," ujar Mirza. (gen)