"Banyak yang komplain di Twitter, harga-harga pakan ikan belum turun dan masih tinggi. Kan ini sudah Maret. Mana janjinya?," ujar Susi saat ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (5/3).
Padahal kata Susi, penurunan harga pakan tersebut penting untuk meningkatkan pendapatan pembudidaya hingga 30 persen. Sebab, pakan ikan merupakan komponen terbesar dalam produksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bos PT ASI Pudjiastuti Aviation, operator maskapai Susi Air ini pun mengancam akan membiarkan impor pakan ikan dari luar negeri masuk ke pasar lokal jika asosiasi tidak juga menurunkan harga jual pakan produksinya.
Sementara itu Ketua Divisi Pakan Aquakultur Deni Indradjaja mengatakan tidak akan menurunkan harga pakan ikan. Namun, banyak anggota asosiasinya yang telah membuat produk baru dengan harga jual lebih murah.
“Kami tidak menurunkan harga, tapi membuat pakan baru lebih murah tergantung dengan tingkat protein," ujar Deni.
Dia mengatakan saat ini harga pakan ikan premium sekitar Rp 9 ribu-Rp 10 ribu per kg dengan tingkat protein 32 persen. "Itu premium branding tidak mungkin diturunkan," ujarnya.
Untuk itu para pengusaha berinovasi dengan membuat pakan yang kadar proteinnya lebih rendah dibandingkan pakan premium. "Tapi masih dalam Standard Nasional Indonesia (SNI) sehingga bisa kami jual dengan harga Rp 7 ribu sampai Rp 8 ribu per kg,” tegasnya.
Penolakan penurunan tersebut, kata Deni, juga memperhitungkan faktor ongkos produksi yang mahal. “Kami kan harus bayar pegawai juga, apalagi UMR semakin meningkat," katanya. (gen)