Ali Mundakir, Vice President Corporate Communication Pertamina, menilai pembangunan pelabuhan senilai Rp 34,5 triliun itu akan menggangu kegiatan produksi blok minyak dan gas Offshore North West Java (ONWJ), yang berada tak jauh dari lokasi proyek.
"Kalau pelabuhan tetap dibangun di lokasi tersebut tentunya akan mengancam supply gas ke pembangkit PLN dan Pupuk Kujang. Dampaknya, Jakarta berpotensi gelap gulita dan produksi pupuk berhenti," ujar Ali di Jakarta, Kamis (5/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini karena di area pantai yang menjadi alur kapal Pelabuhan Cilamaya terdapat jaringan pipa blok ONWJ. Kalau dibangun pasti terganggu," ujarnya.
Syamsul Alam, Direktur Hulu Pertamina, mengungkapkan aktivitas ekonomi dan ekplorasi migas di area blok ONWJ selama ini mencapai Rp 21 triliun per tahun dan diperkirakan akan berlangsung hingga 25 tahun ke depan.
"Bukan kami tidak setuju. Cuma saja kebetulan kami bicara negara. Indonesia punya sumber energi ada di daerah itu. Ketahanan energi ingin kita capai. Kita buat infrastruktur, tapi korbankan energi," ujar Syamsul.
Pada kesempatan yang sama, Adolf Richard Tambunan, Direktur Pelabuhan dan Pengerukan Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub, mengungkapkan pembangunan pelabuhan tidak akan mengganggu semua pipa migas milik Pertamina.
"Semua resiko sudah dikaji oleh pemerintah agar tidak berbenturan dengan pipa migas bawah laut ONWJ. Jadi sudah bisa dimitigasi resikonya," tuturnya.
Berdasarkan kajian, jelas Adolf, lokasi pembangungan pelabuhan Cilamaya akan bergeser sepanjang 2,9 km untuk mengurangi dampak pada kegiatan produksi blok ONWJ. Keberadaan pelabuhan tersebut diyakini Adolf dapat mengerakan roda transportasi laut dan mengurangi beban bongkar muat di pelabuhan Tanjung Priok. (ags)