Berkunjung ke Aceh, Jokowi Masih Sempat Intip Kurs Rupiah

Gentur Putro Jati, CNN Indonesia | Senin, 09/03/2015 16:25 WIB
Berkunjung ke Aceh, Jokowi Masih Sempat Intip Kurs Rupiah
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku terus memantau pergerakan nilai tukar rupiah yang belakangan melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Termasuk ketika dirinya melakukan kunjungan kerja ke Aceh hari ini, Senin (9/3) di mana rupiah sempat diperdagangkan di level terendah Rp 13.047 per dolar.

“Pelemahan rupiah ini kita waspadai, tapi tenang-tenang saja karena pemerintah selalu bertemu dengan Bank Indonesia (BI) untuk mengantisipasi hal ini,” kata Jokowi di Aceh, dikutip dari laman Sekretariat Kabinet, Senin (9/3).

Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut kembali mengingatkan bahwa fenomena keperkasaan dolar, tidak hanya dialami oleh rupiah namun juga mata uang negara lain.


“Pelemahan ini karena faktor eksternal. Fundamental ekonomi kita baik, inflasi sangat rendah bahkan Januari sempat deflasi, indeks saham naik, dan obligasi juga naik,” katanya.

Dia memastikan, pelemahan nilai tukar rupiah akan tetap dipantau dan dijaga pemerintah bekerjasama dengan BI sehingga tidak seperti saat krisis ekonomi 1997-1998 lalu. Ketika itu rupiah sempat melemah dari Rp 2 ribuan per dolar menjadi Rp 15 ribuan per dolar.

“Kondisinya berbeda donk, dulu loncatannya berapa kali. Ini yang paling penting sekarang selalu menjaga volatilitas pergerakan itu, yang paling penting itu,” kata Jokowi.

Sebelumnya Guntur Tri Hariyanto, Analis Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), menuturkan dolar AS kembali menguat setelah investor melihat perkembangan positif data ketenagakerjaan AS. Pada Februari lalu, terjadi penambahan jumlah pekerjaan berdasarkan data non-farm payroll sebanyak 295 ribu lapangan kerja.

“Angka ini berada di atas ekspektasi para analis dan menggenapkan jumlah penambahan pekerjaan di atas 200 ribu per bulan dalam 12 bulan terakhir,” kata Guntur.

Menurutnya, hal itu membuat tingkat pengangguran di AS turun menjadi 5,5 persen dari sebelumnya 5,7 persen, yang merupakan angka terendah sejak Mei 2008. Meskipun tingkat pengangguran turun, tetapi belum diikuti dengan kenaikan upah yang signifikan.

“Meski demikian, dalam jangka waktu 12 bulan terakhir, lebih dari 3,3 juta warga AS memperoleh pekerjaan. Diperkuat dengan rendahnya harga minyak, peningkatkan jumlah tenaga kerja akan memperkuat konsumsi di AS,” katanya.

Dengan menguatnya data tenaga kerja AS, lanjut Guntur, meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS (Fed fund rate) akan dinaikkan secepatnya pada bulan Juni 2014. Kondisi ini juga mendorong USD menguat kepada berbagai mata uang di dunia, dan juga meningkatkan yield surat utang AS. (gen)