Bos AirAsia Dukung Penggunaan Rupiah dalam Membeli Avtur

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 12/03/2015 18:09 WIB
Indonesia AirAsia telah meminta Pertamina untuk bersedia menerima pembayaran avtur dalam bentuk rupiah, namun tidak ditanggapi. Presiden Direktur Indonesia AirAsia Sunu Widyatmoko. (Detik Foto/Hasan Alhabshy)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Direktur PT Indonesia AirAsia Sunu Widiatmoko menyatakan prihatin atas depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi akhir-akhir ini. Pelemahan rupiah secara umum dinilai memberatkan bagi pelaku industri penerbangan yang menerima sebagian besar pendapatan dalam nominal rupiah sementara harus membayar mayoritas beban operasional dalam bentuk dolar.

“Kita semua prihatin ya dengan pelemahan rupiah itu. Harus diakui bagaimanapun sangat berpengaruh terhadap industri airline,” ujar Sunu di Jakarta, Kamis (12/3).

Sunu menyebutkan mata uang dolar masih digunakan ketika harus membayar layanan bandara yang terkait dengan navigasi penerbangan untuk penerbangan internasional serta pembelian bahan bakar pesawat atau avtur.


Kendati demikian, lanjut Sunu, pengaruh pelemahan dolar dampaknya belum begitu terasa ke Indonesia AirAsia mengingat perusahaan yang dipimpinnya telah melakukan lindung nilai alami (natural hedging). Sekitar 65 persen penerbangan Indonesia AirAsia adalah penerbangan internasional sehingga pendapatan yang dikantongi juga sebagian besar dalam mata uang asing.

Menurut Sunu, langkah terbaik untuk meredam dampak pelemahan rupiah terhadap industri penerbangan adalah konsisten untuk tetap menggunakan rupiah ketika melakukan transaksi di Indonesia sesuai dengan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.

“Pemerintah sudah mengeluarkan ketentuan bahwa transaksi di dalam negeri itu dalam bentuk rupiah menurut saya itu saja yang diikuti,” tutur Sunu.

Ubah Mata Uang

Sunu menyebutkan, perusahaannya telah meminta PT Pertamina (Persero) sebagai pemasok avtur di seluruh bandara Indonesia untuk bersedia menerima pembayaran menggunakan mata uang uang rupiah. Namun sayangnya permintaan tersebut tidak ditanggapi karena sampai saat ini pembayaran masih dilakukan dengan dolar.

“Kebetulan kami punya pendapatan dolar, tapi kalau sedang kurang dolar maka kami harus beli dolar di market. Daripada kami beli dolar di market untuk membeli avtur, sebaiknya Pertamina yang beli dolar di market,” kata Sunu.

Sebelumnya Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro menyebutkan salah satu cara paling mudah untuk mengendalikan gejolak nilai tukar rupiah adalah dengan mengendalikan supply dan demand dari dolar. Oleh karena itu, Bambang mengaku akan mengendalikan permintaan dolar dengan mewajibkan sejumlah transaksi keuangan di masyarakat diubah dari sebelumnya menggunakan dolar dengan mata uang rupiah.

"Sistemnya akan kami paksakan, jadi semoga nanti tempat-tempat yang memiliki frekuensi transaksi dolar tinggi seperti hotel maupun penyewaan kawasan industri bisa menggunakan rupiah,” kata Bambang.

Jika pemerintah bisa memperkuat ketentuan itu, Bambang berharap kebijakan tersebut bisa menekan transaksi berdenominasi dolar di Indonesia. Sehingga permintaan akan dolar bisa turun yang nantinya bisa menguatkan rupiah. (gen)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK