Rupiah Jeblok, UKM Berpeluang Dongkrak Ekspor

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Sabtu, 14/03/2015 14:38 WIB
Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat Usaha Kecil dan Menengah (UKM) berkontribusi ekspor mencapai US$ 23 miliar sepanjang 2014. Seorang perajin menyelesaikan pembuatan kain batik pada pameran "Batik Warisan Budaya VII", di Plaza Kemenperin, Jakarta, Selasa (30/9). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat Usaha Kecil dan Menengah (UKM) berkontribusi ekspor mencapai US$ 23 miliar sepanjang 2014. Capaian tersebut dinilai membuat peluang UKM untuk menyokong ekspor terbuka lebar, karena pelemahan rupiah dinilai tidak menggoncang sektor tersebut.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Nus Nuzulia Ishak menilai melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang negeri Paman Sam akhir-akhir ini membuka peluang bagi UKM tanah air untuk mengenjot penjualan produk ekspornya.

“Pasalnya, depresiasi rupiah terhadap dolar AS membuat harga produk ekspor tanah air menjadi relatif lebih murah di mata dunia,” ujar Nus ketika ditemui di kantornya, Jumat (13/3).


Kendati demikian Nus menekankan, untuk masuk ke pasar internasional pelaku usaha tanah air harus memiliki pengetahuan mengenai ekspor dan harus memenuhi standar kualitas produk negara tujuan.

“Sekarang itu kan negara tujuan ekspor kan menentukan persyaratannya, menentukan technical regulation, cukup ketat kan. Misalnya, di dalam furniture itu catnya tidak boleh mengandung kadar timah,” ujarnya.

Nus mengungkapkan, sektor perhiasan menjadi salah satu andalan ekspor UKM. Tahun lalu, nilai ekspor perhiasan mencapai US$ 4,6 miliar, meningkat 64 persen dari tahun 2013 yang mencapai US$ 2,7 miliar. Produk perhiasan banyak diminati oleh pembeli dari Hongkong, Timur Tengah, Singapura, Jepang, Amerika Serikat (AS), dan beberapa negara di Eropa.

“Faktor (peningkatannya) kami lihat permintaan perhiasan ini cukup gencar tahun 2014 ini dan mudah-mudahan sih tahun 2015 juga tetap bagus,” kata Nus.

UKM pengekspor perhiasan, lanjut Nus, banyak berasal dari Jawa Timur (Jatim). Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencatat, sampai November 2014, ekspor perhiasan Jatim mencapai US$ 2,6 miliar, lebih dari separuh nilai ekspor perhiasan tanah sepanjang 2014.

Topangan Industri Mebel

Selain perhiasan, produk perabot kayu/mebel (furniture) juga banyak dilirik oleh pelaku UKM. Tahun lalu kontribusi UKM pada ekspor perabot adalah US$ 1,8 miliar, meningkat sekitar 4 persen dari tahun 2013. Produk perabot sendiri dinilai Nus sebagai produk yang akan meraup untung paling banyak dari adanya depresiasi rupiah terhadap dolar AS karena kandungan lokalnya sangat tinggi.

“Yang sangat diuntungkan (dari adanya depresiasi rupiah terhadap dolar AS) adalah furniture kita. Furniture kita kan almost 90 persen itu konten lokal,” ujar Nus.

Sentra produksi furnitur berasal dari pulau Jawa,Kalimatan, dan Sulawesi misalnya Cirebon (Jawa Barat), Pontianak (Kalimatan Barat), dan Makassar (Sulawesi Selatan). Hasil produksinya banyak dipasarkan ke Amerika Serikat, beberapa negara di Eropa, Jepang, Singapura, Malaysia, hingga Afrika Selatan.

Di samping itu, ekspor UKM juga mulai merambah di produk makanan olahan, kulit, dan sepatu. Nus menyebutkan, UKM berkontribusi sekitar 10 persen dari nilai ekspor masing-masing produk tersebut di tahun 2014. Kontribusi UKM pada produk makanan olahan, sepatu, kulit, secara berturut-turut adalah US$ 530 juta, US$ 450 juta, dan US$ 400 juta. (gir/gir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK