JK: Harga Anjlok, Setoran Minyak Bisa Minus Rp 100 Triliun

Noor Aspasia Hasibuan, CNN Indonesia | Jumat, 20/03/2015 16:07 WIB
JK: Harga Anjlok, Setoran Minyak Bisa Minus Rp 100 Triliun Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan pengarahan saat meresmikan Gedung Pascasarjana JK School of Government di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (7/3). (ANTARA FOTO/HO/Humas UMY Hamim Thohari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kejatuhan harga minyak membuat pemerintah khawatir pendapatan negara dari sektor minyak dan gas tergerus signifikan. Wakil Presiden Jusuf Kalla memperkirakan penerimaan negara berpotensi hilang sekitar Rp 100 triliun jika tren penurunan harga minyak berlanjut hingga di bawah US$ 50 per barel.

"Dengan harga minyak US$ 50 atau US$ 40 sekian (per barel) itu, kita bisa kekurangan pendapatan kira-kira Rp 100 triliun," ujar Jusuf Kalla (JK) di Kantor Wapres, Jum'at (20/3).

Kendati penerimaan turun, kata Wapres, dari sisi belanja Indonesia juga diuntungkan dengan beban subsidi yang semakin berkurang. Terlebih sejak subdidi untuk bahan bakar jenis premium dihapus.


"Efek positifnya subsidi makin terhapus. Mungkin ada untung sedikit malah. Tapi pendapatan kita dari migas menurun juga, lebih banyak lagi. itu efeknya,"  tutur Wapres.

Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015, rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) dipatok US$ 60 per barel untuk satu tahun anggaran.

Sementara pada perdagangan Kamis (19/3), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman APril turun menjadi US$ 42,38 per barel, yang merupakan level terendah sejak 2009. Demikian pula di pasar Nymex, harga emas hitam itu ditutup pada kisaran US$ 44,35 per barel, turun US$ 84 sen dibandingkan dengan posisi sebelumnya US$ 44,52 per barel.

Sejumlah analis menilai anjloknya harga minyak tak lepas dari kian berlimpahnya pasokan minyak di pasar internasional dan juga Amerika Serikat (AS). Disinyalir kuat, berlimpahnya pasokan juga disebabkan seiring rencana pemberian sanksi kepada Iran terkait penggunaan nuklir. Dengan adanya larangan tersebut, negara yang dipimpin oleh Presiden Hassan Rouhani ini pun akan kembali menjadikan minyak mentah sebagai salah satu pemasukan terbesarnya.

"Banyak analis menyebut harga minyak akan tetap rendah di level US$ 40 per barel, sementara saya memprediksi harga bisa menyentuh US$ 30 jika ada kebijakan yang signifikan," ujar Kepala Analisa Price Information Service, Tom Kloza seperti dikutip dari CNN Money. (ags/gen)