“Ini masih dikaji. Bauksit itu sampai saat ini tidak ada fasilitas pemurnian dan perlu terobosan hukum untuk menjamin (smelter). Kalau dilarang ekspor ya bakal terganggu investasinya, padahal mereka membutuhkan (insentif) untuk mempercepat pembangunan smelter,” ujar Staf Khusus Menteri ESDM Said Didu di Jakarta, Senin (23/3).
Akan tetapi, Said bilang, pemerintah belum menentukan bentuk insentif apa yang akan diberikan untuk perusahaan pertambangan. Menurutnya, wacana pelonggaran ketentuan ekspor biji bauksit tengah dibahas dan rencananya revisi kebijakan itu akan dituangkan dalam bentuk Peraturan Pemerintah (PP) atau Peraturan Menteri (Permen) ESDM yang baru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain insentif, kata Said, pemerintah juga akan menentukan klasifikasi perusahaan pertambangan mana saja yang akan diberikan kelonggaran untuk bisa mengekspor biji mineral bauksit. “Misalnya minimum pembangunan sudah 30 persen progresnya. Kalau belum, ya tidak boleh dong," katanya.
Berangkat dari aturan tersebut, anggota DPR pun menilai pelaku bisnis bauksit seolah dianaktirikan terkait program hilirisasi nasional. "Ini aspirasi dari Senayan jadi pemerintah akan fasilitasi. Tapi tidak perlu merubah UU Minerba, cukup revisi Permen ESDM saja,” ujar Said Didu. (ags)