Analis PT Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe mengatakan penguatan mata uang dolar AS sudah terlihat sejak 21 Oktober 2014. Sejak itu dolar AS terus menunjukkan tren penguatan dengan level di atas Rp 12.000, bahkan sempat menembus Rp 13.000.
"Setelah bergerak sesuai perkiraan dalam dua minggu terakhir, di mana dolar AS berpeluang menguat, minggu ini kami perkirakan dolar AS kembali menguat terbatas terhadap rupiah," ujarnya dalam riset, Minggu (3/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia mengatakan, berbeda dengan IHSG yang melemah, laju rupiah di awal pekan ini mampu berbalik positif. Menurutnya, pergerakan ini agak sedikit berbeda dengan periode sebelumnya ketika mendekati pertemuan The Fed yang biasanya akan melemah.
Kali ini pun, lanjut Reza, pergerakannya hampir menyamai periode-periode sebelumnya jelang pertemuan The Fed. Meski pihaknya menyangsikan akan adanya sesuatu hal yang baru terkait dengan hal-hal yang akan disampaikan oleh Gubernur Yellen, tetapi sudah menjadi historikal bagi Rupiah yang cenderung melemah setiap jelang pertemuan The Fed.
“Sepanjang perjalanan masih berada di zona merah seiring dengan masih maraknya aksi beli dolar AS terimbas penantian pertemuan The Fed,” jelasnya.
Di sisi lain, katanya, laju rupiah tertolong oleh laju euro yang mampu berbalik menguat karena pelaku pasar mulai mengurangi kekhawatiran akan penyelesaian masalah utang Yunani dan perkiraan belum akan adanya sesuatu hal yang baru dari pertemuan The Fed, terutama potensi kenaikan suku bunganya. (gir)