Serapan Karet Alam Rendah, Hilirisasi Industri Belum Maksimal

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 12/05/2015 06:15 WIB
Serapan Karet Alam Rendah, Hilirisasi Industri Belum Maksimal Menteri Perindustrian Saleh Husin (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perindustrian menilai hilirisasi industri karet nasional belum maksimal menyusul serapan hasil produksi karet petani yang masih rendah. Saat ini, konsumsi karet alam domestik oleh industri sekitar 18 persen dari toal produksi, jauh di bawah rata-rata negara tetangga di kawasan yang mencapai kisaran 40 persen dari total produksi.

Menteri Perindustrian Saleh Husin menilai karet alam hasil produksi petani sebenarnya dapat diolah oleh industri menjadi beragam produk turunan yang memiliki nilai tambah tinggi. Karenanya, perlu langkah-langkah strategis dari pemerintah untuk dapat memaksimalkan penyerapannya oleh industri manufaktur.

"Saat ini konsumsi karet alam domestik untuk memproduksi barang-barang karet hanya mencapai sekitar 18 persen dari total produksi nasional," ujar Saleh di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (11/5).


Menurut Saleh, serapan konsumsi karet bagi bahan baku di Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan negara Asia lainnya, seperti Malaysia, India, dan Tiongkok, yang rata-rata mencapai 40 persen dari total produksi.

Kementerian Perindustrian mencatat industri karet dalam negeri sejauh ini baru menyerap sekitar 550 ribu ton per tahun dari total produksi karet alam yang mencapai 3 juta ton per tahun. Dari total karet alamyang terserap, 55 persen dimanfaatkan oleh industri ban, 17 persen digunakan oleh industri sarung tangan dan benang karet, 11 persen digunakan oleh industri alas kaki, dan 9 persen digunakan oleh industri barang-barang karet lainnya.

Demi meningkatkan penyerapan dalam negeri, Kementerian Perindustrian berupaya memberikan dukungan melalui kebijakan antara lain penguatan struktur industri barang-barang karet, pemberian insentif untuk industri berteknologi tinggi maupun industri berorientasi ekspor, pengembangan kawasan industri, serta mendorong investasi karet sintetis dan kimia karet.

"Industri karet menjadi sektor prioritas karena pertimbangan besarnya potensi lahan yang akan mendukung pemenuhan kebutuhan bahan baku industri barang-barang karet untuk jangka panjang," tutur Saleh. (ags/ags)