"Nilai tukar eceran tetap mengalami depresiasi karena adanya aktivitas dengan nilai transaksi besar terutama untuk membayar utang luar negeri dan ekspor impor. Kegiatan ini merupakan hal musiman, bukan sebuah peristiwa khusus," ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo di Jakarta, Jumat (15/5).
Ia menambahkan, peningkatan impor pada bulan April juga berkontribusi pada pelemahan rupiah. Hal tersebut didasarkan pada fakta bahwa impor sepanjang April tercatat sebesar US$ 12,63 miliar atau naik sebesar US$ 0,05 miliar dibandingkan Maret lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih Kecil
Meskipun mengalami depresiasi sebesar 0,23 persen, namun depresiasi ini masih lebih kecil dibandingkan angka Maret yang mencapai 0,76 persen dimana nilai depresiasi tertinggi terjadi di Kalimantan Utara dengan nilai 2,72 persen.
"Kita lihat saja, semoga makin membaik," ujarnya. (gen)