Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mengevaluasi ulang kebijakan penaikan royalti batubara domestik, baik itu untuk berkalori rendah, menengah, hingga tinggi.
Upaya ini dilakukan seiring dengan masih rendahnya harga batubara dunia dan acuan Indonesia yang terus menurun sejak beberapa waktu lalu. Hal itu dinilai memberatkan pengusaha batubara.
"Posisi kami kemarin di rapat dengan BKF (Badan Kebijakan Fiskal), kalori rendah tidak naik sementara yang menengah dan tinggi akan dinaikkan. Sekarang masih kita hitung kenaikannya, kita evaluasi. Nanti kita berikan lagi ke BKF dalam waktu dekat," ujar Bambang Gatot, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM di kantornya, Jakarta, Rabu (17/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai pengingat, pada medio akhir 2014 lalu Kementerian ESDM berencana menaikan setoran royalti untuk batubara kalori rendah dari 3 persen menjadi 7 persen, kalori menengah dari 5 persen menjadi 9 persen, dan batubara berkalori tinggi dari 9 persen menjadi 13,5 persen.
Lebih lanjut, rencana penaikan royalti dilakukan demi menggenjot penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor pertambangan batubara nasional yang tahun ini ditargetkan mencapai Rp 45,6 triliun.
Akan tetapi, menyusul masih jeleknya harga batubara di pasar domestik maupun internasional, pemerintah mewacanakan untuk mengubah besaran pengenaan royalti bagi pelaku usaha.
"Alasannya dengan harga sekarang tidak memberikan keuntungan bagi pelaku usaha. Malah mengakibatkan banyak yang tutup karena
cost produksi sekarang itu mendekati harga jual," tuturnya.
Harga Acuan Juni Kembali AnjlokSeiring dengan rencana mengevaluasi ulang pengenaan royalti, harga batubara acuan (HBA) Indonesia per Juni 2015 diketahui berada di level US$ 59,59 per ton. Jika dibandingkan dengan HBA Mei yang berada di level US$ 61,08 per ton, itu artinya harga acuan batubara Indonesia bulan ini kembali anjlok di kisaran 2,4 persen.
Bahkan, bila dibandingkan dengan harga acuan Juni 2014 silam di angka US$ 73,64 per ton, penurunan HBA Juni 2015 mencapai 19,08 persen.
Lantaran tak mau menambah katalis negatif pada sektor batubara pemerintah pun memastikan akan mengevaluasi ulang rencana penaikan royalti batubara.
"Tapi nanti liat besaran (perubahan) royaltinya nanti, Mungkin yang menengah hanya naik jadi 6 atau 7 persen begitu juga dengan royalti batubara yang tinggi. Saat ini masih dievaluasi," cetus Bambang.