Fish laundering yang dimaksud Susi adalah kegiatan perusahaan perikanan Indonesia yang menerima produk impor hasil perikanan dari negara yang mendapat kartu kuning dari negara-negara importir di Eropa dan Food and Aquaculture Organization (FAO).
Susi menambahkan, kegiatan pencucian ikan dilakukan karena Thailand dan Filipina sudah terkena kartu kuning oleh FAO. Bahkan, Thailand memungkinkan dikenakan kartu merah. Karena itu, pencucian ikan merupakan satu-satunya jalan agar produk mereka bisa diterima di Eropa, yakni dengan menggunakan stempel Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, pihak perusahaan tahu bahwa ikan yang akan diimpor dari Thailand dan Filipina tersebut adalah hasil curian dari perairan Indonesia.
Ia pun meminta para pelaku yang tergabung dalam asosiasi untuk melaporkan dan turut memboikot produk perikanan dari perusahaan-perusahaan yang terbukti menjadi pintu gerbang masuknya produk perikanan dari Thailand dan Filipina.
"Siap ya di blacklist dari industri perikanan kalau ada yang menjadi pelaku fish laundering?," tanya Susi.
Pertanyaan tersebut ditanggapi setuju oleh perwakilan asosiasi. "Setuju bu. Khusus untuk cakalang, harga cakalang dalam negeri sudah anjlok, apalagi kalau ditambah masuk impor cakalang dari Filipina," ujar Esther. (gen)