Obral Visa Perlu Ditopang Tiga Perbaikan Industri Pariwisata

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 25/06/2015 15:40 WIB
Obral Visa Perlu Ditopang Tiga Perbaikan Industri Pariwisata Sejumlah wisatawan menyaksikan matahari terbit (sunrise) di Pantai Sanur, Bali, Rabu (6/5). Panorama matahari terbit yang indah menjadi daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Pantai Sanur pada pagi hari. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Diterbitkannya aturan perluasan pembebasan visa bagi wisatawan asing dari 30 negara baru oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dinilai tidak akan memberikan hasil maksimal bagi Indonesia. Meskipun kebijakan tersebut mampu menarik para turis untuk datang berkunjung ke tanah air.

“Aturan itu merupakan salah satu pintu gerbang menarik turis asing. Tetapi setelah itu kan banyak yang perlu dilakukan. Ibarat mau menuang air ke dalam gelas, menuangnya bisa terus-terusan, tapi gelasnya cukup nggak? Bocor nggak?” kata Direktur Utama PT Panorama Sentrawisata Tbk (PANR) Budi Tirtawisata ketika ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (25/6).

Menurut Budi, ada tiga hal penting yang perlu dilakukan untuk meningkatkan industri pariwisata di Tanah Air yaitu perbaikan infrastruktur, konektivitas, dan sumber daya manusia. Ketiga hal tersebut, lanjut Budi, merupakan kunci penting untuk mencapai target mendatangkan 20 juta turis asing ke Indonesia pada 2019.

Kendati demikian, Budi tidak memungkiri meskipun baru dua minggu berlaku aturan yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 2015 tersebut telah memberi dampak psikologis yang positif bagi turis asing. Dalam hal ini, Indonesia menjadi destinasi yang mudah untuk dikunjung dalam persepsi para pelancong dari luar negeri.


"Persepsi dulu bahwa ke Indonesia gampang. Apalagi kalau orang mau melakukan perjalanan rencana dari jauh-jauh hari. Kalau orang Eropa mau liburan, rencananya sudah setahun di muka, minimal enam bulan di muka," ujarnya.

Selain itu, berubahnya persepsi tersebut juga bisa membantu pemasaran dan branding pariwisata Indonesia di luar negeri, khususnya yang dilakukan oleh agen Panorama di luar negeri.

“Dampaknya secara kuantitatif, saya belum ada angkanya, tapi secara kualitatif agen-agen kita di luar negeri semua happy dan excited,” ujarnya.

Pada akhirnya, Budi berharap, aturan tersebut dapat membantu dalam mencapai target peningkatan jumlah turis asing yang didatangkan oleh Panorama tahun ini untuk bisa naik 15 persen dibandingkan tahun lalu. Panorama berhasil mendatangkan sekitar 100 ribuan lebih turis asing sepanjang tahun 2014. Sekitar 51 persen diantaranya berasal dari Eropa, 36 persen dari Asia, dan sisanya berasal dari Amerika Utara dan Tengah serta negara-negara lain.

Ubah Mindset

Lebih lanjut Budi menuturkan, hal termudah untuk mulai memajukan industri pariwisata adalah dengan mengubah pola pikir (mindset) masyarakat bahwa pariwisata harus dilihat sebagai industri yang menjanjikan darisegi ekonomi dan merupakan industri yang ramah terhadap lingkungan (eco-friendly).

“Sekarang saya lihat mindset tersebut sudah mulai berubah. Setiap kita bicara kepada kepala daerah/ Bupati/ Walikota, mereka lebih peduli terhadap pariwisata. Mereka sadar bahwa wisata ini merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sangat menjanjikan buat daerah mereka,” ujarnya.

Selain itu, meskipun Indonesia belum menjadi negara yang berorientasi pada pelayanan, ke depannya Budi berharap memberikan pelayanan yang baik dapat menjadi budaya.

“Indonesia ini bukan a service society yet. Jadi ini perlu kita budayakan, wisatawan ini jangan dijadikan sekedar obyek. They want a fair treatment, nyaman dan tidak ditipu dan kalau naik taksi tidak dibawa muter-muter,” ujarnya. (gen)