E-Catalog Sepi Peminat, Ketua LKPP Minta Tips JK

Noor Aspasia Hasibuan | CNN Indonesia
Kamis, 06 Agu 2015 16:43 WIB
Masukan dari JK bisa membantu meningkatkan minat instansi pemerintah maupun perusahaan swasta penyedia barang dan jasa.
Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) Agus Prabowo (berbaju batik). (Dok. Lembaga Pengembangan dan Konsultasi Nasional/LPKN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) Agus Prabowo meminta arahan dari Wakil Presiden Jusuf Kalla (Wapres JK) dalam penataan komponen audit, komponen aturan, komponen anggaran, dan komponen organisasi penyelenggaraan e-catalog.

Menurut Agus, masukan dari JK bisa membantu meningkatkan minat instansi pemerintah maupun perusahaan swasta penyedia barang dan jasa untuk bertransaksi melalui e-catalog LKPP.

"Sekarang ada situasi dan kondisi pejabat takut mengeksekusi pengadaan di lapangan, takut disalahkan, takut karena terburu-buru waktunya. Ini yang akan ditindaklanjuti oleh Presiden dan Wakil Presiden," kata Agus di Kantor Wapres, Jakarta, Kamis (6/8).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

E-catalog menurut Agus seharusnya bisa membantu meningkatkan belanja barang pemerintah. Sampai saat ini, Agus mengatakan bahwa e-catalog ini telah menyediakan 40 ribu barang yang siap dipakai instansi pemerintah.

Sayangnya, saat ini baru Kementerian Perhubungan yang dipimpin Ignasius Jonan yang telah melakukan belanja barang dan jasa melalui e-catalog LKPP.

"Pak Jonan beli bus 1.000 unit dari e-catalog, dan tak pakai tender. Dia punya pagu anggaran kemudian dibeli, selisihnya 20 persen penghematan. Itu bukti efisiensi, jadi seperti e-commerce ya," kata Agus.

Mantan Deputi Bidang Pengembangan dan Pembinaan Sumber daya Manusia LKPP tersebut berharap setelah bertemu JK yang notabene seorang pengusaha nasional maka daya tarik e-catalog sebagai sarana utama penyediaan barang dan hasa pemerintah akan meningkat.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, sampai Agustus 2015 sistem elektronik pengadaan barang kementerian/lembaga pemerintah (e-catalog) baru mencatatkan transaksi sebesar Rp 15 Triliun. Angka tersebut terbilang rendah karena sudah mencakup transaksi pembelian yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. (gen)