Sementara pada pembukaan perdagangan pagi ini, rupiah kembali melemah ke angka Rp 13.796,9 per dolar dan turun lagi menjadi Rp 13.830 per dolar.
Head of Research NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada memperkirakan awan gelap mash menyelimuti pergerakan rupiah hari ini, Rabu (12/8). Pasalnya yuan yang diharapkan bisa menjadi satu-satunya mata uang yang dapat melawan dominasi dolar, justru dilemahkan sendiri oleh PBOC.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Namun sadar atau tidak, China seperti tidak melihat efek sampingnya. Dengan melemahnya laju yuan maka mata uang tandingan dolar menjadi tidak ada. Poundsterling, yen, euro, hingga rubel sudah terbukti tidak mampu sebelumnya melawan dolar seiring peliknya masalah internal ekonominya,” kata Reza dikutip dari riset, Rabu (12/8).
“Di tambah lagi faktor internasional sekarang yaitu kelihatannya The Fed makin yakin menaikkan suku bunga. Walaupun kalau kita baca, China yang menurunkan yuan-nya tentu akan berubah lagi konstelasi,” kata Sofyan.
Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengatakan pemerintah masih menanti respons dari Bank Sentral Amerika Serikat atas kebijakan Bank Sentral China tersebut.
“Bagi pemerintah yang penting apakah rupiah bisa bertahan, depresiasi mungkin terjadi tetapi jangan sampai berlebihan,” jelasnya. (gen)