Hal itu disampaikan oleh anggota Tim Komunikasi Presiden Teten Masduki setelah menghadiri Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (19/8). Teten pun memaparkan penyebab rendahnya penyerapan anggaran di kedua kementerian tersebut.
Menurutnya, ada beberapa faktor yang mengakibatkan serapan anggaran rendah, misalnya faktor regulasi dan faktor ketakutan terhadap proses hukum yang bisa menjerat pejabat yang mengambil inisiatif-inisiatif menerobos aturan yang rumit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semua itu, imbuh Teten, akan dilakukan di tingkat rapat koordinasi Menteri Perekonomian.
"Presiden menganggap bahwa belanja pemerintah sangat penting untuk mendongkrak daya beli masyarakat dan menggenjot pertumbuhan di tengah ekonomi yang lesu," kata dia.
Selain itu, Presiden juga secara khusus mengutus Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo untuk fokus mencari cara agar dana desa yang sekarang 'terparkir' di Bank Pembangunan Daerah (BPD) di setiap daerah untuk segera dibelanjakan.
Namun, jika melihat total alokasi anggarannya yang mencapai Rp 1.984,1 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015, maka kinerja belanja negara di paruh pertama tahun ini jauh dari harapan karena baru terserap 39 persen. (gir/gir)