“Logikanya kalau produksi meningkat cukup signifikan, harga setidaknya tidak naik, apalagi kalau sudah swasembada,” ujar Faisal dalam risetnya, dikutip Rabu (2/9).
Namun, kenyataannya jauh berbeda. Faisal mencatat, dalam empat bulan terakhir kontribusi harga makanan terhadap inflasi sangat dominan. Rata-rata mencapai sekitar 50 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang bulan lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komoditas bahan pangan yang paling dominan memberikan andil terhadap inflasi adalah daging ayam ras, beras, cabai rawit, telur ayam ras, dan daging sapi.
Lemahkan Rupiah
Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi itu menambahkan, tingginya harga makanan sepanjang 2015 ini semakin menambah pelemahan rupiah. Faisal mengatakan pada dasarnya nilai tukar suatu mata uang merupakan cerminan dari daya beli relatif.
“Jika inflasi kita lebih tinggi ketimbang negara-negara tetangga, maka kemerosotan nilai tukar kita bakal lebih tajam ketimbang negara tetangga. Dibandingkan dengan negara tetangga ASEAN, inflasi kita paling tinggi, terhadap Vietnam sekalipun,” ujarnya. (gen)