Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Syarif Burhanuddin bahkan optimistis pemerintah bisa membangun rumah murah melebihi target yang ditetapkan. Kendati demikian, ia tak menyebut angka pasti estimasi yang dibuatnya.
"Dari angka yang sudah masuk, kami yakin target rumah bagi MBR bisa terpenuhi, bahkan bisa lebih dari target. Masalah seberapa besar kelebihan targetnya, kita lihat saja nanti di akhir tahun," terang Syarif ketika ditemui di Jakarta, Kamis (17/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembangunan rumah subsidi ini, lanjutnya, diperlukan untuk mencapai target backlog rumah yang angkanya diharapkan turun dari angka 13,5 juta unit pada tahun 2014 ke angka 6,8 juta unit di tahun 2019.
Target rumah murah sebesar 603,15 ribu unit hingga akhir tahun ini merupakan bagian dari program satu juta rumah yang digalakkan pemerintah sejak April tahun ini. Rumah-rumah itu diantaranya akan dibangun oleh Realestate Indonesia (REI) sebanyak 280 ribu unit, Apersi 155 ribu unit, Perum Perumnas 36,06 ribu unit, dan Pemerintah Pusat sebesar 88,3 ribu unit.
Selain membangun rumah bagi masyarakat berpendapatan menengah ke bawah, sebanyak 396,48 ribu unit rumah non-MBR juga ditargetkan rampung hingga akhir 2015. Rumah-rumah tersebut akan dibangun oleh Real Estate Indonesia (REI) sebesar 250 ribu unit dan mekanisme pasar sebesar 146,48 ribu unit.
Hingga 15 September 2015, realisasi pembangunan satu juta rumah sudah mencapai 493,55 ribu unit, atau 49,35 persen dari target akhir tahun sebesar satu juta unit. Angka itu terdiri dari 357,90 ribu unit rumah murah dan 135,64 ribu unit sisanya merupakan rumah non-MBR. (gen)