Sekretaris Jenderal Kemenhub, Sugiharjo menegaskan jika Pertamina tidak menyanggupi hal itu, maka bisnis avtur di bandara akan dikompetisikan dengan melibatkan swasta.
"Kalau tidak terpenuhi (oleh Pertamina) maka hanya dengan kompetisi (bisnis avtur)," ujarnya di Jakarta, Ahad (20/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau Pak menteri suratnya jelas, Pertamina agar mengurangi harga avtur karena harga BBM turun, dan di luar juga murah," tuturnya.
Direktur Pemasaran dan Penjualan Pertamina, Ahmad Bambang mengakui bahwa harga avtur yang dijualnya lebih mahal karena kilang Pertamina sudah tua dan ada beban pajak yang harus dibayarkan. Di samping itu, Pertamina sebagai pemasok tunggal avtur di Indonesia juga harus melakukan subsidi silang antara harga avtur di bandara besar dengan bandara kecil.
“Pertamina melakukan subsidi silang, artinya kerugian jual avtur di bandara-bandara kecil seperti Mamuju, Silangit, Nias, Pinang Soeri, daerah-daerah remote seperti Tual, Saumlaki, Larantukan, Luwuk, Labuhan Bajo (Komodo), Tanjung Pinang dan banyak lagi bandara kecil, dikompensasi oleh keuntungan dari bandara-bandara besar," kata Ahmad.
Menanggapi hal itu, Jonan mengancam akan mengajak pemain swasta untuk menjadi pemasok avtur di bandara-bandara nasional jika Pertamina berhenti memasok bahan bakar pesawat tersebut.
“Kalau nanti misalnya Pertamina mau berhenti (memasok avtur bandara kecil) ya saya masukkan saja yang bukan Pertamina ke sana, ke bandara-bandara lain,” kata Jonan. (ags)