Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja menjelaskan, setelah pemerintah melakukan simulasi perhitungan harga dasar BBM berdasarkan periode 1 bulan diperoleh harga premium tidak turun dari angka Rp 7.400 per liter dan harga solar turun sedikit dari Rp 6.900 per liter. Dua harga tersebut merupakan harga jual BBM jenis premium dan solar yang sampai saat ini masih digunakan PT Pertamina (Persero) meskipun pemerintah sudah menetapkannya sejak Maret 2015 lalu.
Pria yang kerap disapa Wirat tersebut menambahkan, harga premium pun tidak akan turun jika simulasi evaluasi harga BBM dilakukan dengan periode perhitungan 3 atau 6 bulan. Di dalam dua kajian tersebut, harga premium kemungkinan akan naik di mana kenaikan pada simulasi 6 bulan lebih kecil dibandingkan simulasi 3 bulan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Estimasi harga tersebut dihitung pemerintah dengan mempertimbangkan depresiasi rupiah sebesar 13,95 persen menuju angka Rp 14.700 per dolar dibandingkan dengan posisi nilai tukar pada April 2015 di angka Rp 12.900 per dolar.
Selain itu, Wirat mengungkapkan tidak mungkinnya penurunan harga premium dilakukan karena kini harga Mean of Platts Singapore (MOPS) berada di atas US$ 60 per barel. Harga ini meningkat sekitar 20 persen apabila dibandingkan April lalu di kisaran US$ 50 per barel. (gen)