Paket Kebijakan Direspons Positif, Rupiah Menguat Signifikan

Agust Supriadi, CNN Indonesia | Selasa, 06/10/2015 12:51 WIB
Paket Kebijakan Direspons Positif, Rupiah Menguat Signifikan Petugas menghitung uang dolar AS di Kantor Cabang BNI Melawai, Jakarta, Selasa (15/9). . (Antara Foto/Yudhi Mahatma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terapresiasi signifikan pada paruh perdagangan hari ini. Reuters mencatat, rupiah sempat menembus level Rp14.170 per dolar AS sebelum bertengger di angka Rp14.230 pada sesi pertama.

Pada hari sebelumnya, Senin (5/10), nilai tukar rupiah menguat sebesar 143 poin (0,98 persen) ke Rp 14.503 per dolar AS setelah bergerak di kisaran Rp 14.488-Rp 14.652 per dolar AS.

Sebastian Tobing, Kepala Riset PT Trimegah Securities Tbk menilai menguatnya rupiah karena ada sentimen eksternal dan internal. Dari dalam negeri, persepsi investor terhadap perekonomian nasional menguat setelah ada upaya dari pemerintah untuk menggelontorkan stimulus melalui paket kebijakannya.


"Selain itu mungkin ada intervensi dari bank sentral untuk mengurangi volatilitas rupiah dan mengurangi spekulasi forex," ujarnya kepada CNN Indonesia, Selasa (6/10).

Sementara dari eksternal, Samuel menilai faktor Bank Sentral AS atau The Federal Reserve yang kemungkinan menunda kenaikan suku bunga acuan juga turut berimbas terhadap pergerakan kurs.

"Dolar turunnya terlalu dalam. Mungkin karena The Fed masih agak lama menaikkan suku bunga," tuturnya.

Investor pasar modal, lanjut Samuel, saat ini berharap rupiah stabil dengan adanya kombinasi kebijakan moneter dan fiskal belakangan ini. "Buat pasar yang penting rupiahnya stabil, jangan volatile terus. Kalau bisa menguat lebih bagus," katanya Samuel.

"Tapi jangan cepat senang dulu. Kita lihat nanti bagaimana stimulusnya," lanjut Samuel.

Samuel memprediksi rupiah akan ditutup pada level Rp14.180 per dolar AS pada hari ini. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diramalkan akan ditutup pada angka 4480.

Sebelumnya, Analis Reliance Securities, Lanjar Nafi mengatakan bursa Asia mayoritas menguat kemarin, Senin (5/10) merespon data tenaga kerja di AS yang di bawah ekspetasi. Hal ini membuat pemulihan ekonomi AS kembali dipertanyakan, menyoal  perlu atau tidaknya penaikan biaya pinjaman atau suku bunga.


(ags/gen)