Bubble Properti China Berisiko Picu Krisis Keuangan Global

Irene Inriana, CNN Indonesia | Selasa, 20/10/2015 11:17 WIB
Bubble Properti China Berisiko Picu Krisis Keuangan Global Ilustrasi bendera China. (REUTERS/Jason Lee)
Jakarta, CNN Indonesia -- PricewaterhouseCoopers (PwC) memperkirakan perekonomian China hanya akan tumbuh di bawah 7 persen pada tahun ini dan semakin melambat untuk jangka menengah. Penurunan pasar properti yang sebagian besar didanai utang disinyalir menjadi penyebabnya dan dikhawatirkan bisa memicu krisis keuangan global.

Irhoan Tanudiredja, Senior Partner PwC Indonesia menjelaskan, perlambatan ekonomi Negeri Tirai Bambu terjadi seiring dengan upaya otoritas setempat mengatasi gelembung (bubble) pasar properti yang selama ini digerakkan oleh utang. Berdasarkan pengalaman, lanjutnya, aspek kebijakan ini tidak mudah untuk dilakukan dan diyakini akan memakan waktu yang tidak singkat.

"Pertumbuhan gelembung pasar properti dimulai sekitar tujuh tahun yang lalu, sebagian sebagai reaksi terhadap krisis keuangan juga telah meningkatkan urbanisasi," ujar Irhoan melalui keterangan tertulis, Senin 919/10).


Menurutnya, utang dalam negeri yang diberikan kepada sektor swasta China tercatat mencapai 140 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu, pemerintah China juga mengantongi utang yang cukup tinggi.

"Saat ini terdapat kekhawatiran bahwa perlambatan tajam dapat kembali memicu tahapan krisis keuangan global," kata Irhoan.

Ekonom senior PwC, Richard Boxshall mengatakan, sebagian besar dari uang yang dihimpun China disalurkan ke proyek-proyek investasi aset tetap, terutama perumahan dan infrastruktur lainnya. Oleh karena itu, katanya, rasio investasi terhadap PDB China  pada tahun lalu meningkat sekitar 47 persen atau hampir dua kali lipat dari rata-rata negara E7 (Brazil, Rusia, India, Cina, Meksiko,  Turki dan Indonesia).

"Hanya dalam kurun waktu yang relatif singkat, Tiongkok menjadi pengimpor terbesar bijih besi, baja dan bahan bangunan siap saji di dunia.  Secara mengagumkan, Tiongkok juga berhasil mengkontribusikan sekitar sepertiga pertumbuhan kapasitas jalur kereta di dunia sejak tahun 2008," jelasnya memaparkan.

Pemburukan ekonomi China, menurut Boxshall, sangat serius dan tidak boleh diremehkan meskipun memiliki cadangan devisa dan ruang fiskal yang cukup besar.