Terdapat tujuh asumsi makroekonomi dan empat target pembangunan yang disepakati sebagai indikator penilaian kinerja pemerintah pada tahun depan.
Asumsi pertama adalah pertumbuhan ekonomi, yang disepakati sebesar 5,3 persen atau lebih rendah dari usulan awal pemerintah 5,5 persen. Angka tersebut jauh di bawah target pertumbuhan ekonomi 2015 yang dipatok 5,7 persen, meski sampai paruh kedua tahun ini meleset di bawah target.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara ICP, dari usulan pemerintah US$ 60 per barel dikoreksi menjadi US$ 50 per barel.
| Indikator Makroekonomi | RAPBN 2016 | Kesepakatan |
| Pertumbuhan Ekonomi (%) | 5,5 | 5,3 |
| Inflasi (%) | 4,7 | 4,7 |
| Nilai Tukar (Rp/US$) | 13.400 | 13.900 |
| Suku Bunga SBN 3 bulan (%) | 5,5 | 5,5 |
| Harga Minyak/ICP (US$/barel) | 60 | 50 |
| Produksi Minyak (Ribu barel/hari) | 830 | 830 |
| Produksi Gas Bumi (Ribu barel/hari) | 1150 | 1155 |
Target Pembangunan
Selanjutnya, empat target pembangunan yang menjadi poin-poin kesepakatan pemerintah dan Banggar DPR pada Jumat (30/10) dini hari antara lain menargetkan tingkat pengangguran nasional di kisaran 5,2 persen hingga 5,5 persen. Lalu angka kemiskinan, ditetapkan pada kisaran 9 persen hingga 10 persen.
Kedua target tersebut juga mengacu pada rasio ketimpangan pendapatan (gini ratio) yang ditetapkan sebesar 0,39 persen. Semakin kecil gini ratio mendekati 0 persen, maka mencerminkan semakin tipis kesenjangan pendapatan masyarakat.
Indikator lain yang jadi tolok ukur pembangunan adalah Indeks Pembangunan Manusia yang ditetapkan sebesar 70,1 poin.
Berikut empat indikator pembangunan yang dimaksud:
| Target Pembangunan | RAPBN 2016 | Kesepakatan |
| Pengangguran (%) | 5,2 - 5,5 | 5,2 - 5,5 |
| Angka Kemiskinan (%) | 9,0-10 | 9,0-10 |
| Gini ratio (indeks) | 0,39 | 0,39 |
| Indeks Pembangunan Manusia (indeks) | 70,1 | 70,1 |