Sektor Manufaktur China Turun pada Oktober

Yoko Sari & Reuters, CNN Indonesia | Senin, 02/11/2015 01:46 WIB
Sektor Manufaktur China Turun pada Oktober Sektor manufaktur China kembali turun untuk tiga bulan berturut-turut. (Ilustrasi/REUTERS/Kim Kyung-Hoon)
Beijing, CNN Indonesia -- Kegiatan di sektor manufaktur China secara tidak diduga berkonstraksi pada Oktober yang merupakan bulan ketiga berturut-turut.

Data resmi pemerintah yang diterbitkan Minggu (1/10) ini semakin menimbulkan kekhawatiran bahwa ekonomi negara itu kemungkinan akan terus melambat di kuartal keempat tahun ini, meski sudah ada langkah-langkah stimulus.

Selain kekhawatiran itu, sektor jasa China yang merupakan salah satu sektor yang bagus dalam ekonomi namun juga memperlihatkan tanda-tanda melambat bulan lalu, bergerak dalam percepatan paling lambat dalam hampir tujuh tahun.


Biro Statistik Nasional mengungkap bahwa Purchasing Manager’s Index, PMI, resmi pada Oktober adalah 49,8 yang sama dengan pecepatan bulan sebelumnya, dibawah perkiraan pasar sebesar 50,0.

Data ini juga memperlihatkan PMI sektor non-manufaktur turun menjadi 53,1, turun dari 53,4 pada September. Dan ini merupakan angka paling rendah sejak akhir 2008 ketika terjadi krisis finansial global.

PMI di atas 50 menunjukkan pertumbuhan kegiatan sementara satu poin di bawah angka itu menunjukkan kontraksi dalam satu bulan.

Pabrik-pabrik China masih terkena dampak dari lesunya permintaan di dalam dan di luar negeri, yang membuat banyak perusahaan terbebani oleh pabrik yang tidak berproduksi sehingga mereka harus menurunkan harga yang pada akhirnya mengurangi keuntungan.

Pada Oktober, pesanan baru ke pabrik-pabrik berkontraksi untuk ke-13 bulan berturun-turun, meski sub-indek pesanan baru - satu proxy untuk permintaan domestik dan luar negeri - naik sedikit dari 50,3 bulan September manjadi 50,3.

Permintaan yang berkurang ini membuat para pemilik pabrik merumahkan karyawan mereka dalam kecepatan yang lebih cepat dibandingkan September.

Data yang dirilis minggu lalu memperlihatkan perekonomian China tumbuh 6,9 persen antara Juli dan September, turun sedikit di bawah tujuh persen untuk pertama kali sejak krisis finansial global. Akan tetapi, sejumlah pengamat pasar yakin pertumbuhan ekonomi saat ini jauh lebih kecil dari data pemerintah itu.

Para pemimpin China mencoba meyakinkan pasar global yang selama berbulan-bulan khawatir bahwa perekonomian negara itu sudah bisa dikendalikan setelah mata uang yuan didevaluasi dan bursa saham anjlok pada pertengahan tahun lalu berhasil menghilangkan kekhawatiran akan “hard landing”.

Untuk mendorong pertumbuhan, pemerintah China telah menurunkan suku bunga ancuan enam kali sejak November tahun lalu, dan pada tahun ini empat kali menurunkan jumlah cadangan uang tunai yang harus dimiliki oleh bank.

Keputusan menurunkan suku bunga acuan dan persyaratan cadangan uang tunai bank terjadi pada 23 Oktober, dan pemerintah diperkirakan akan mengambil langkah-langkah meringankan lebih banyak lagi.

Beijing juga dengan cepat membelanjakan anggaran di sektor infrastruktur dan melonggarkan peraturan di sektor properti yang lesu.

Langkah ini berhasil membantu menghidupkan kembali penjualan dan harga rumah yang sempat lesu tetapi belum berhasil mengatasi penurunan tajam dalam investasi properti.

Banyak pakar ekonomi memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan mencapai titik terendah dalam kuartal ketiga tahun ini, dan akan terjadi sedikit perbaikan pada akhir tahun dan awal 2016 setelah langkah-langkah stimulus mulai berdampak. (yns)