BEI Ajak Nasabah Bank Alihkan Simpanan ke Pasar Saham

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Rabu, 04/11/2015 22:34 WIB
BEI Ajak Nasabah Bank Alihkan Simpanan ke Pasar Saham Direktur Utama PT BEI, Tito Sulistio. (Detikcom/Rengga Sancaya)
Jakarta, CNN Indonesia -- HHBursa Efek Indonesia (BEI) mengajak nasabah perbankan mengalihkan tabungannya untuk investasi di pasar saham. Pasalnya, saat ini hanya sekitar 4 persen dari total penduduk Indonesia yang berinvestasi saham atau jauh lebih kecil dari pemilik tabungan yang mencapai 60 persen.

Direktur Utama BEI, Tito Sulistio mengatakan menabung dalam bentuk saham memberikan imbal hasil (return) yang lebih besar dibandingkan deposito berjangka (time deposit).

“10  tahun terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan itu return-nya sekitar 24 persen, time deposit cuma 7,2 persen. Nabung saham, menyimpan saham, dalam jangka panjang terbukti lebih menguntungkan,” tutur Tito saat memperkenalkan kampanye gerakan “Ayo Menabung Saham” di Jakarta, Rabu (4/11).


Kampanye yang melibatkan seluruh pelaku pasar modal tersebut, kata Tito, bertujuan untuk mengubah budaya masyarat yang cenderung menyimpan uangnya di bank (saving society) menjadi masyarakat yang berinvestasi di saham (investment society). Saat ini hanya sekitar 4 persen dari penduduk Indonesia yang menjadi investor dan paham atas produk saham atau jauh lebih kecil dari masyarakat yang menabung di bank yang ada di kisaran 60 persen.

“Saya harapkan kampanye ‘Yuk Menabung Saham’ menjadi menjadi sepopuler kampanye 'Keluarga Berencana' zaman dulu, menjadi sangat populer seperti Tabanas (Tabungan Pembangunan Nasional)  dulu,” ujarnya.

Sebagai bagian dari kampanye ini, jelas Tito, calon investor ritel diperkenankan membuat akun identifikasi investor (single investor identification/SID) pada broker dengan menempatkan sejumlah modal tertentu.

Nantinya, lanjut Tito, uang yang disimpan dalam akun tersebut akan dipotong secara otomatis (auto-debet) untuk dibelikan saham ataupun reksa dana yang disetujui oleh investor. Saham itu baru bisa dijual setelah mencapai jangka waktu tertentu, misalnya setahun.

“Sudah ada 24 reksa dana yang tertarik ikut dan 25 broker yang tertarik program ini, kita harapkan semua broker berpartisipasi ,” ujarnya.

Menurut Tito, orang yang berani berinvestasi di saham adalah orang yang berpendidikan (well-educated) atau orang yang memiliki dana berlebih.

“Yang punya uang bukan berarti menengah ke atas, karena kalau Rp 250 ribu per bulan dipotongnya, menengah pun bisa,” ujarnya.

Kampanye “Ayo Menabung Saham” rencananya akan diluncurkan pada kegiatan Investor Summit and Capital Market Expo 2015 (ISCME 2015) pada 12 November 2015.

(ags/ags)