Pengamat Kebijakan Energi Yusri Usman berpendapat manajemen PT Pertamina (Persero) dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said seperti tengah berupaya menutupi sejumlah fakta yang terjadi sebelum periode tersebut.
"Kenapa Pertamina tidak melakukan audit forensik yang menyeluruh sejak 2004 sampai 2014, atau setidaknya pada 2007 sampai dengan 2014? Apalagi pada 2007 dan 2008, yang menurut Said Didu (staf khusus Menteri ESDM) bahwa "ada belut beracun dalam kolam oli" yang mengakibatkan Sudirman Said dicopot dari jabatan SVP ISC (Integrated Supply Chain) Pertamina," tutur Yusri kepada CNN Indonesia, Rabu (11/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui secara detil ihwal praktik kongkalikong di dalam mekanisme pengadaan minyak impor hingga mencari tokoh utama yang ditengarai kerap mengambil untung dalam setiap liter minyak yang diimpor badan usaha milik negara (BUMN) tersebut.
Di kesempatan berbeda Inas Nasrullah, Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengaku kecewa terhadap upaya audit yang dilakukan Pertamina terhadap Petral. Menurut Inas, audit yang dipercayakan kepada perusahaan jasa keuangan asal Australia yakni KordaMentha itu dinilai tak menyasar pada substansi dari upaya pembenahan yang digadang pemerintah sendiri.
"Saya heran dengan pernyataan Sudirman Said (yang mengatakan) bahwa Pemerintah dan Pertamina pada saat itu tidak terlibat. Padahal sudah cukup jelas keterlibatan tersebut. Setelah Sudirman dicopot (2009), Petral mulai diberi kewenangan untuk melakukan tender pengadaan BBM dan minyak mentah di mana kemudian Global Energy dan Gold Manor ikut terlibat dalam mengatur tender tersebut," tuturnya.
Inas mengungkapkan, KordaMentha sebenarnya telah mengetahui sumber mark up yang dilakukan Petral, PES, ISC di dalam mekanisme pengadaan minyak ke Pertamina. Di mana dalam pelaksanaannya terdapat beberapa pihak yang diketahui turut ambil bagian dan mengutip rente.
"Chain supply yang ditemukan KordaMentha dan menjadi sumber mark up itu: Produsen-Calo1-Calo2-NOC-Petral-Pertamina. Calo1 dan Calo2 adalah perusahaan milik Mr. MR yakni bergantian: Gold Manor, Global Resources, Global Energy dan Veritra Oil yang seluruhnya berbasis di Singapura," terang Inas.
Sebelumnya Dwi Soetjipto, Direktur Utama Pertamina mengatakan dibatasinya audit forensik Petral tak lepas dari rekomendasi yang diberikan Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi yang dipimpin Faisal Basri.
"Awalnya Tim Reformasi Tata Kelola Migas hanya merekomendasikan untuk ahanya mengaudit satu tahun ke belakang. Tapi masa audit kami perpanjang sampai 2012 atau tiga tahun," imbuh Dwi beberapa waktu kemarin. (dim/gen)