BWPT Bakal Tambah Satu Pabrik di Tengah Gejolak Harga Sawit

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 13/11/2015 15:07 WIB
BWPT Bakal Tambah Satu Pabrik di Tengah Gejolak Harga Sawit Kebun sawit dan pabrik pengolahan minyak kelapa sawit PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT). (Dok. Eagle High Plantations).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT) akan membangun pabrik kelapa sawit baru di Kalimantan Timur tahun depan. Hal itu dilakukan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan kelapa sawit melalui belanja modal (capital expenditure/capex) perusahaan.

“Capex 2016 selain untuk meneruskan pembangunan dua pabrik kelapa sawit di Kalimantan Barat dan Papua, kami sedang menjajaki untuk memulai satu pabrik kelapa sawit yang baru di Kalimantan Timur,” tutur Sekretaris Perusahaan BWPT Rudy Suhendra ketika ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (13/11).

Rudy mengungkapkan saat ini BWPT sudah mengoperasikan satu pabrik di Kalimantan Timur dengan kapasitas produksi 90 ton per jam (ton per hour/tph). Rencananya, pabrik baru di provinsi yang sama yang akan dibangun dengan kapasitas sekitar 30 tph. Adapun luasan lahan tertanam di area tersebut mencapai 32 ribu hektare (ha).

“Dengan satu pabrik saat ini di Kalimantan Timur sudah cukup penuh. Jadi kami harus membangun pabrik yang baru lagi di sana,” ujarnya.

Namun demikian, Rudy masih enggan membocorkan perkiraan estimasi dana yang dibutuhkan untuk investasi tersebut. “Nilai investasinya sedang diperhitungkan karena kami sedang dalam proses penyusunan budget saat ini,” katanya.

BWPT saat ini memiliki luas lahan tertanam 153,15 ha dengan mengoperasikan tujuh pabrik kelapa sawit berkapasitas total 385 tph. Dengan menyelesaikan konstruksi dua pabrik baru di Kalimantan Barat dan Papua berkapasitas masing-masing 45 tph, maka tahun depan total kapasitas pabrik kelapa sawit BWPT sekitar 475 tph.

“Dua pabrik ini masing-masing di-design untuk memiliki kapasitas 45 tph tapi nantinya bisa kami expand ke 90 tph,” ujarnya.

Untuk membangun dua pabrik tersebut perseroan menghabiskan dana sekitar Rp 400 miliar. Rudy memperkirakan pabrik baru di Kalimantan Barat akan siap beroperasi pada kuartal pertama tahun depan. Sementara, pabrik baru di Papua akan beroperasi pada kuartal keempat tahun depan.