“Tax amnesty hanya tinggal menunggu Undang-undang (UU). Kalau UU sudah ada, paling cepat satu minggu setelah diundangkan kita bisa melakukan proses amnestinya,” kata Bambang kepada CNNIndonesia.com di rumah dinasnya, Minggu (6/12).
Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) mengatakan sesuai namanya, pemerintah memberi kesempatan pengampunan atas kewajiban-kewajiban perpajakan para WP yang belum diselesaikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Uang tebus untuk memperoleh surat pengampunan pajak dari Direktur Jenderal Pajak dihitung menggunakan formula tertentu. Draf Rancangan Undang-undang (RUU) Pengampunan Pajak menyebutkan uang tebusan untuk surat permohonan pengampunan pajak yang diajukan Januari-Maret 2016 adalah 2 persen dari selisih nilai harta bersih.
“Rate-nya misalnya dua persen, tergantung dia declare kapan. Semakin cepat semakin rendah tarifnya. Tarif itu berdasarkan best practice saja di dunia,” ujar Bambang.
Basis Pajak
Dengan memperoleh pengampunan pajak, Pasal 7 ayat (8) RUU tersebut menyatakan fiskus tidak akan melakukan pemeriksaan, pemeriksaan bukti permulaan, sampai tidak akan melakukan penyidikan tindak pidana perpajakan.
Jika WP sedang dalam proses pemeriksaan dan penyidikan, maka proses tersebut dijanjikan pemerintah akan dihentikan.
Sementara keuntungan bagi negara, Bambang menyebut keuntungan yang akan diperoleh adalah pemerintah jadi mengetahui harta yang sebenarnya dari WP tersebut.
“Nah ke depan, maka tax base kita akan lebih luas. Kalau dulu mengakunya hanya punya satu rumah dan satu mobil, ternyata mobilnya ada lima. Tentu berbeda dong tarifnya,” kata Bambang. (gen)